Imbas Serang Ukraina, Youtube Hingga Facebook Blokir Monetisasi Channel Milik Rusia
AP Images/Jenny Kane
Dunia

Sejumlah platform media sosial bertindak tegas memblokir monetisasi channel milik Rusia di tengah serangannya terhadap Ukraina. Begini penjelasan dari perwakilan YouTube hingga Facebook.

WowKeren - Platform media sosial mencegah media yang didukung Rusia untuk meraup pendapatan iklan di tengah aksi serangan Rusia terhadap Ukraina, salah satunya channel bernama RT. Selama bertahun-tahun, anggota parlemen dan beberapa pengguna telah meminta YouTube untuk mengambil tindakan lebih besar terhadap saluran yang memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia karena khawatir mereka menyebarkan informasi yang salah dan tidak boleh mengambil untung dari itu.

Rusia menerima sekitar $7 juta hingga $32 juta selama periode dua tahun yang berakhir pada Desember 2018 dari iklan di 26 saluran YouTube yang didukungnya, kata peneliti digital Omelas mengutip Reuters, Minggu (27/2).

Oleh karena itu, kepala kebijakan keamanan di Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, mengumumkan pada Jumat (25/2) malam bahwa media pemerintah Rusia tidak akan dapat memperoleh uang dari iklan di platform perusahaan.

"Kami sekarang melarang media pemerintah Rusia menjalankan iklan atau memonetisasi di platform kami di mana pun di dunia," cuit Nathaniel Gleicher dalam akun Twitter-nya. "Kami juga terus menerapkan label ke media pemerintah Rusia tambahan. Perubahan ini sudah mulai diluncurkan dan akan berlanjut hingga akhir pekan."

Gleicher juga mengatakan bahwa Meta meluncurkan fitur keamanan tambahan di Facebook. "Selain meluncurkan Profil Terkunci di Ukraina, kami juga telah menghapus sementara kemampuan untuk melihat dan mencari daftar 'Teman' untuk akun Facebook di Ukraina untuk membantu melindungi orang-orang agar tidak menjadi sasaran," tulisnya di Twitter.

Menyusul langkah tersebut, YouTube pada hari Sabtu (26/2) mengatakan saluran Rusia, termasuk jaringan milik negara RT, akan dilarang menerima uang dari iklan di platformnya. "Menjeda sejumlah kemampuan saluran untuk memonetisasi di YouTube, termasuk beberapa saluran Rusia yang berafiliasi dengan sanksi baru-baru ini," ujar perwakilan YouTube.

Twitter, sementara itu, mengatakan sedang menangguhkan iklan di Ukraina dan Rusia di tengah konflik. "Kami menghentikan sementara iklan di Ukraina dan Rusia untuk memastikan informasi keselamatan publik yang penting ditingkatkan dan iklan tidak menguranginya," bunyi tweet Twitter Safety pada Jumat (26/2).

Keputusan ini diambil ketika para ahli mengatakan bahwa para pemimpin Rusia dan media yang didukung negara sedang bekerja untuk menyebarkan disinformasi dan propaganda di tengah invasi negara itu ke Ukraina.

RT sendiri merupakan channel milik Rusia yang dibuat pada tahun 2005 dengan nama "Russia Today," secara teratur dituduh oleh otoritas Barat berkontribusi terhadap disinformasi. YouTube mencatat bahwa selama beberapa hari terakhir telah menghapus ratusan saluran, termasuk beberapa untuk "praktik penipuan terkoordinasi," istilah yang digunakan perusahaan untuk disinformasi.

(wk/lara)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait