Aksi serangan KKB kali ini menewaskan 8 orang warga sipil yang merupakan karyawan PT. PTT. Lantas, siapakah sebenarnya kelompok KKB yang kini menebar teror di Papua?
- Amelia Nur Fatimah
- Sabtu, 05 Maret 2022 - 13:21 WIB
WowKeren - Setelah dilakukan penyelidikan, direskrimum Polda Papua, Kombes Faizal Rahmadani akhirnya mengungkap pelaku penyerangan yang menewaskan 8 karyawan PT. PTT pada Selasa (1/3) lalu. Dari hasil penyelidikan sementara terungkap bahwa pelaku penyerangan ke kamp PT. PTT adalah KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) yang dipimpin Terry Aibon yang merupakan anak buah Nau Waker.
"Namun untuk lebih memastikan anggota masih melakukan pendalaman," kata Kombes Faizal Rahmadani pada Sabtu (5/3) melansir Antara.
Diketahui bahwa KKB belakangan semakin intens melakukan penyerangan, baik ke aparat keamanan (TNI Polri) maupun warga sipil. Faktanya, kelompok KKB memang telah lama menjadi dalang serentetan aksi penyerangan di Papua. Lantas, siapakah sebenarnya KKB?
Melansir dpr.go.id, sebelumnya kelompok ini diberi nama Organisasi Papua Merdeka (OPM), kemudian diubah menjadi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Kelompok separatis ini disebut memang sejak dulu ingin merdeka. Apalagi, mereka juga punya kenangan trauma yang cukup lama di era Orde Baru.
Pemerintah kemudian berinisiatif membentuk Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua dengan anggaran besar. Tapi nyatanya anggaran ini hanya dinikmati oleh kaum elit dan tidak terserap ke masyarakat.
Hal itu ternyata justru memicu munculnya gerakan perlawanan yang lebih masif dengan melakukan berbagai kegiatan kriminal. Perubahan istilah OPM ke KKB juga dimaksudkan untuk mengubah paradigma penanganan kaum separatis di Papua. Bila ada salah satu kelompok KKB Papua ini tertangkap maka mereka akan ditahan karena alasan kriminalitas.
Meski begitu, OPM berbeda dengan KKB Papua. Pasalnya, KKB saat ini teror disebarkan dengan berbekal persenjataan lengkap dan mutakhir sehingga lebih sulit dikendalikan.
Melansir Kompas, KKB beraksi di kawasan pegunungan di Papua. Beberapa kabupaten yang hingga kini masih rawan dari aksi KKB Papua adalah Puncak, Yahukimo, Nduga dan Intan Jaya. Sementara ada lima kelompok besar KKB Papua yang telah dipetakan dengan para pemimpinnya. Mereka adalah Lekagak Telenggen, Egianus Kogoya, Jhony Botak, Demianus Magai Yogi, dan Sabinus Waker.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Aqsha Erlangga mengungkap kekejaman gerombolan Kriminal Separatis Teroris (KST) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap warga sipil dan aparat di Papua sejak 2018 hingga saat ini.
Pada tahun 2018, KKB setidaknya melakukan penembakan pada pesawat Dimonim Air dan Trigana Air di Bandar Udara Kenyam. Dalam peristiwa itu, 1 orang pPilot dan co pilot mengalami luka-luka, 3 orang meninggal, 1 anak luka bacok. Mereka juga menyandera, merampok dan memperkosa guru di Arwanop Tembagapura.
Masih di tahun yang sama, mereka membantai Pekerja Istaka Karya (Pekerja Proyek Jembatan Kali Yigi-Kali Aurak) di Jalan Trans Papua Distrik Yigi, Kab Nduga dan menyerang Pos TNI di Mbua. Peristiwa tersebut mengakibatkan 15 orang sipil meninggal dunia, 1 selamat, 3 terluka tembak, serta 1 Prajurit TNI gugur dan 1 terluka.
Tahun 2019, KKB sempat menyerang dan menembak Rombongan Bupati Nduga di di Mapenduma.Sementara di tahun 2020, kelompok ini juga menembak petugas medis yang akan melaksanakan tugas mensosialisasikan COVID-19 di Distrik Wandai Intan Jaya.
Pada tahun 2021, serangan KKB tampaknya semakin brutal. Mereka melakukan penembakan hingga pembakaran yang mengakibatkan banyak kroban jiwa. Di antaranya, mereka menembak mati 5 Warga Puncak. Di antaranya Kepala Kampung Niporolome Patianus Kogoya, Petena Murib (perempuan), dan Nelius Kogoya di Kabupaten Puncak.
Di paruh awal 2022, KKB kembali menunjukkan kekejamannya. Terakhir, 8 orang warga sipil yang merupakan karyawan PT. PTT jadi korbannya.
"Pelanggaran HAM berat terus dilakukan oleh KST, kekejaman selama awal tahun 2022 dijadikan pembenaran oleh KST dengan kedok berjuang untuk tujuan mulia dan dendam yang tidak masuk akal di luar nalar. Nyawa begitu mudah dihilangkan, perbuatan ini sejak dulu dilakukan, bahkan dengan bangganya memamerkan kekejamannya," pungkas Aqsha dalam keterangan resminya, Jumat (4/3).
(wk/amel)