Penelitian mengenai dampak COVID-19 terus dilakukan. Salah satunya, sebuah studi dari Universitas Oxford menemukan jika COVID-19 juga berpengaruh pada otak.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 08 Maret 2022 - 17:43 WIB
WowKeren - Sebuah penelitian dilakukan untuk mengamati perngaruh COVID-19 pada otak. Studi dari Universitas Oxford menemukan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan otak menyusut, mengurangi materi abu-abu di daerah yang mengontrol emosi dan memori, dan merusak area yang mengontrol indera penciuman.
Para ilmuwan mengatakan bahwa efeknya bahkan terlihat pada orang terpapar COVID-19 yang tidak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, soal apakah dampaknya dapat dibalikkan sebagian atau bertahan dalam jangka panjang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
"Ada bukti kuat untuk kelainan terkait otak pada Covid-19,” kata para peneliti dalam studi mereka, yang dirilis Senin (7/2) kemarin.
Bahkan dalam kasus ringan, peserta dalam penelitian menunjukkan "memburuknya fungsi eksekutif" yang bertanggung jawab untuk fokus dan pengorganisasian. Selain itu, ukuran otak rata-rata menyusut antara 0,2 persen dan 2 persen.
Studi peer-review, yang diterbitkan dalam jurnal Nature, menyelidiki perubahan otak pada 785 peserta berusia 51-81 tahun yang otaknya dipindai dua kali. Termasuk 401 orang yang tertular COVID di antara dua pemindaian mereka. Pemindaian kedua dilakukan rata-rata 141 hari setelah pemindaian pertama.
Penelitian itu dilakukan ketika varian Alpha dominan di Inggris dan tidak mungkin melibatkan siapa pun yang terinfeksi varian Delta. Selain itu, studi juga telah menemukan bahwa beberapa orang yang memiliki COVID menderita "kabut otak" atau kekeruhan mental yang mencakup gangguan perhatian, konsentrasi, kecepatan pemrosesan informasi, dan memori.
Para peneliti tidak mengatakan apakah vaksinasi terhadap COVID berdampak pada kondisi tersebut. Akan tetapi Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengatakan bulan lalu bahwa tinjauan terhadap 15 penelitian menemukan jika orang yang divaksinasi sekitar setengahnya lebih mungkin mengembangkan gejala COVID yang lama dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi.
Seperti diketahui, penelitian mengenai COVID-19 terus dilakukan. Beberapa waktu lalu para ilmuwan juga meneliti soal adanya kemungkinan golongan darah seseorang bisa sangat memengaruhi risiko COVID-19 yang parah.
(wk/amel)