Jepang mencatat penurunan kasus bunuh diri dalam dua tahun terakhir. Sayangnya, jumlah kasus bunuh diri yang dilakukan wanita justru mengalami peningkatan.
- Amelia Nur Fatimah
- Rabu, 16 Maret 2022 - 11:17 WIB
WowKeren - Jepang jadi salah satu negara maju di kawasan Asia dengan tingkat bunuh diri penduduk yang tinggi. Akan tetapi, kasus bunuh diri di Jepang dikabarkan menurun selama 2 tahun terakhir. Sayangnya, jumlah kasus bunuh diri pada wanita malah meningkat dalam laporan yang sama.
Dari daftar informasi terbaru yang dirilis pemerintah, diketahui bahwa jumlah bunuh diri pada tahun 2021 menurun untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Tetapi data tersebut juga mengungkapkan bahwa lebih banyak wanita yang bunuh diri di tahun kedua pandemi virus Corona baru.
Angka resmi mengenai data kasus bunuh diri tersebut dirilis oleh Kementerian Kesehatan Jepang pada Selasa (15/2) kemarin. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan angka kasus bunuh diri di Jepang turun sedikit, di angka 74 dari tahun sebelumnya menjadi 21.007. Laki-laki menyumbang 13.939 kasus bunuh diri, turun 116 dari tahun sebelumnya. Ini menandai tahun ke-12 berturut-turut penurunan bunuh diri di kalangan pria di Jepang.
Namun sayangnya, angka untuk kasus bunuh diri pada wanita malah aik 42 dari 2020 menjadi 7.068. Ini menjadi tahun kedua kasus bunuh diri wanita mengalami kenaikan berturut-turut.
Sementara itu, tingkat bunuh diri per 100 ribu orang mencapai 16,8 secara nasional. Di mana hal itu naik 0,1 poin dari tahun sebelumnya. Sedangkan pada pria, tingkat kasu bunuh diri masih tetap, tidak berubah di 22,9. Tapi untuk wanita naik 0,2 poin menjadi 11.
Berdasarkan dari prefektur, Aomori dan Yamanashi memiliki tingkat bunuh diri tertinggi yaitu mencapai 23,7. Tingkat kasus bunuh diri tertinggi kemudian diikuti oleh prefektur Niigata pada 21,3.
Lantas apa yang menyebabkan penduduk Jepang bunuh diri di masa ini? Rupanya alasan paling umum adalah "masalah kesehatan".
Diketahui ada sampai 9.860 kasus bunuh diri yang dilatar belakangi masalah kesehatan yang saat ini turun 335 dari tahun 2020. Kemudian diikuti oleh "masalah keuangan dan masalah lain dalam hidup" dalam 3.376 kasus, naik 160 dari tahun sebelumnya.
(wk/amel)