Orangutan rupanya juga punya bahasa gaul yang dipakai dalam komunikasi. Bahasa gaul tampaknya digunakan oleh para orangutan untuk memamerkan sisi keren mereka.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 22 Maret 2022 - 17:35 WIB
WowKeren - Baik itu patois remaja yang berubah dengan cepat atau kata-kata aneh yang lama terkubur dalam argumen lokal komunitas pedesaan, kosa kata kita dibentuk oleh lingkungan sosial kita. Saat ini, tampaknya pengaruh seperti itu mungkin juga berperan di antara orangutan.
Para peneliti yang mempelajari panggilan alarm ‘kiss-squeak’ dari komunitas kera liar di Kalimantan dan Sumatera telah menemukan bahwa orangutan mampu membuat versi baru dari panggilan tersebut. Bahkan punya beragam variasi dalam nada dan durasi. Terlebih lagi frekuensi panggilan baru, dan apakah versi baru bertahan, dipengaruhi oleh kepadatan komunitas lokal.
“Cara saya melihatnya adalah bahwa orangutan dengan kepadatan rendah memiliki repertoar slang yang terus-menerus mereka kunjungi dan gunakan. Mereka 'konservatif', tetapi begitu varian panggilan baru digunakan, semua mendengarnya dan varian itu dengan cepat digabungkan, memperkaya bahasa gaul," kata Dr Adriano Lameira, penulis pertama penelitian dari departemen psikologi di University of Warwick.
“Di (komunitas orangutan) kepadatan tinggi, komunikasi lebih seperti hiruk-pikuk. Tampaknya 'kebaruan' berada pada tingkat premium, seperti pada burung penyanyi, dan bahwa individu ingin memamerkan sisi keren mereka dan seberapa (banyak) pemberontak mereka,” sambungnya.
Menulis di jurnal Nature Ecology and Evolution , tim tersebut melaporkan bagaimana mereka menghabiskan 6.120 jam pengamatan bekerja di enam stasiun penelitian antara tahun 2005 dan 2010, secara oportunistik merekam cicitan ‘kiss-squeak’ orangutan dari sekitar 70 individu.
Lameira mengungkap bahwa komunitas yang berbeda kadang-kadang muncul dengan variasi panggilan baru yang sama. Hal itu terjadi meskipun tidak ada pertukaran yang diketahui antara populasi tersebut dan mereka sangat berjauhan.
Sementara itu,komunitas orangutan dengan kepadatan tinggi menggunakan berbagai panggilan baru. Tetapi tim peneliti juga menemukan bahwa dengan pergantian yang tinggi, banyak pula yang dengan cepat tidak digunakan. Sebaliknya, kelompok-kelompok kecil lebih jarang menerima panggilan baru, tetapi cenderung mempertahankan panggilan baru saat terjadi.
Lameira menambahkan bahwa selain studi baru ada bukti yang berkembang bahwa repertoar kera besar, seperti bahasa manusia, terdiri dari panggilan seperti konsonan dan vokal yang tidak hanya dapat dikontrol dengan hati-hati, tetapi digabungkan untuk membuat kombinasi seperti suku kata yang dapat bahkan digunakan untuk berkomunikasi tentang peristiwa masa lalu.
“Bukti baru ini memperkuat pandangan baru bahwa kera besar sangat diinginkan dan spesies model unik untuk meningkatkan (pemahaman) kita tentang asal bahasa dan bahasa,” pungkas Lameria.
(wk/amel)