Kementerian Pendidikan mengumumkan pada Rabu (23/3) bahwa sekolah menengah untuk anak perempuan akan ditutup sampai rencana disusun sesuai dengan hukum Islam dan budaya Afghanistan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 23 Maret 2022 - 18:10 WIB
WowKeren - Pemerintahan Taliban di Afgahnistan mengumumkan bahwa sekolah menengah untuk perempuan akan ditutup. Hal tersebut diumumkan hanya beberapa jam setelah sekolah dibuka kembali untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan. Ini berarti siswa perempuan di atas kelas enam atau yang lebih tua dari 11 tahun tidak akan bisa bersekolah.
Menurut kantor berita pemerintah Bakhtar News Agency, Kementerian Pendidikan mengumumkan pada Rabu (23/3) bahwa sekolah untuk anak perempuan akan ditutup sampai rencana disusun sesuai dengan hukum Islam dan budaya Afghanistan. "Kami memberi tahu semua sekolah menengah perempuan dan sekolah yang memiliki siswa perempuan di atas kelas enam bahwa mereka libur sampai perintah berikutnya," demikian kutipan pemberitahuan tersebut.
Juru bicara Taliban, Inamullah Samangani, juga telah mengkonfirmasi laporan bahwa siswa-siswa perempuan telah diperintahkan untuk pulang. "Ya, itu benar," ujarnya kepada AFP. Meski demikian, Samangani tidak menjelaskan alasan keputusan tersebut.
Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan mulai pertengahan Agustus 2021 lalu, perempuan telah dilarang untuk sekolah di atas tingkat menengah pada sebagian besar wilayah. Universitas di sebagian besar wilayah telah dibuka awal tahun ini, namun karena dekrit Taliban tidak menentu ada banyak lembaga pendidikan yang tertutup untuk perempuan.
Keputusan ini dikritik oleh politisi dan jurnalis Afghanistan yang berbasis di London, Shukria Barakzai. Menurutnya, keputusan ini menunjukkan bawha Taliban masih sama seperti sebelumnya, yakni menentang pendidikan untuk perempuan.
"Sangat mengecewakan para siswa perempuan, yang menunggu hari ini, pulang dari sekolah. Ini menunjukkan bahwa Taliban tidak dapat diandalkan dan tidak dapat memenuhi janji mereka," ujar Barakzai kepada Al Jazeera. "Artinya, sekolah menengah pertama dan SMA dilarang untuk anak perempuan. Bahkan sekolah dasar tidak dibuka di seluruh negeri. Sebagian besar provinsi tidak memiliki sekolah dasar perempuan."
Pekan lalu, Kementerian Pendidikan telah mengumumkan bahwa sekolah akan kembali dibuka untuk seluruh siswa, termasuk siswa perempuan, pada Rabu hari ini. Namun dengan pengumuman penutupan sekolah menengah untuk anak perempuan tersebut membuat banyak pihak kecewa dan para siswi menangis.
"Saya melihat murid-murid saya menangis dan enggan meninggalkan kelas," ujar Palwasha yang merupakan seorang guru di sekolah putri Omra Khan di Kabul. "Sangat menyakitkan melihat murid-murid Anda menangis."
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Afghanistan engakui pihak berwenang menghadapi kekurangan guru. Banyak guru termasuk dalam puluhan ribu orang yang melarikan diri dari Afghanistan ketika Taliban mengambil alih kekuasaan tahun lalu.
"Kami membutuhkan ribuan guru dan untuk memecahkan masalah ini kami mencoba untuk merekrut guru baru untuk sementara," ujar jubir Taliban.
(wk/Bert)