Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres bahkan mengutuk peluncuran rudal ICBM itu sebagai pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 25 Maret 2022 - 10:34 WIB
WowKeren - Korea Utara telah mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) terbesarnya. Media pemerintah mengatakan pada Jumat (25/3) bahwa uji coba itu dilakukan atas perintah presiden Kim Jong Un untuk meningkatkan pertahanannya dan mempersiapkan konfrontasi panjang dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa Korea Utara telah menembakkan ICBN pada Kamis (24/3). ICBM itu dilaporkan mencapai zona ekonomi eksklusif Jepang di Laut Jepang di lepas pulau Hokkaido.
Kim dilaporkan ikut mengawasi peluncuran hari Kamis dari apa yang digambarkan sebagai "tipe baru" ICBM, Hwasong-17. Ini merupakan uji coba penuh ICBM pertama oleh Korea Utara yang bersenjata nuklir sejak 2017. Langkah ini mendapat kecaman dari Korea Selatan dan Jepang, serta AS.
Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres bahkan mengutuk peluncuran itu sebagai pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan. Media pemerintah melaporkan jika senjata itu diluncurkan dari Bandara Internasional Pyongyang, kemudian melakukan perjalanan hingga ketinggian maksimum 6.248 km (3.880 mil) dan terbang sejauh 1.090 km (680 mil) selama penerbangan 67 menit sebelum jatuh ke Laut Jepang.
Bukan tanpa alasan, Kim memerintahkan uji coba tersebut karena adanya ketegangan yang meningkat hari demi hari baik di dalam maupun sekitar Semenanjung Korea. Kantor berita resmi KCNA juga melaporkan bahwa uji coba itu dilakukan terkait "konfrontasi lama yang tak terhindarkan dengan imperialis AS disertai dengan bahaya perang nuklir."
Menurut kantor berita itu, Kim menegaskan bahwa Korea Utara ingin dunia menyadari kekuatan negara itu. Selain itu, hal tersebut juga disebutnya sebagai peringatan.
"Munculnya senjata strategis baru DPRK akan membuat seluruh dunia dengan jelas menyadari kekuatan angkatan bersenjata strategis kami sekali lagi," ujarnya. "Setiap pasukan harus dibuat untuk menyadari fakta bahwa mereka harus membayar harga yang sangat mahal sebelum berani mencoba melanggar keamanan negara kita."
(wk/zodi)