Sebelumnya Korea Utara sempat meluncurkan rudal balistik antarbenua pertamanya sejak tahun 2017. Kini Korut kembali memperingatkan Korsel untuk tak memprovokasi negaranya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 05 April 2022 - 17:17 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, Korea Utara hingga saat ini memang dikenal sebagai negara pengembang senjata nuklir. Di sisi lain, hubungan antara Korea Utara dengan Korea Selatan sendiri masih dalam perang dingin.
Belum lama ini, adik perempuan Presiden Korea Utara Kim Jong Un telah mengancam Korea Selatan dengan pembalasan nuklir jika diprovokasi. Adapun ancaman ini muncul setelah Seoul menyoroti kemampuan serangan pre-emptive yang seharusnya dilakukan terhadap Korea Utara.
Sementara dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh media pemerintah Korea Utara pada hari Selasa (5/4), Kim Yo Jong menyebut komentar Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook baru-baru ini tentang serangan pre-emptive sebagai "lamunan yang fantastis" dan "histeria orang gila".
Kim Yo Jong menekankan bahwa meskipun Korea Utara tidak menginginkan perang lagi di semenanjung Korea, Korea Utara akan membalas dengan kekuatan nuklirnya jika Korea Selatan memilih untuk melakukan serangan pendahuluan atau serangan lainnya, yang akan membuat militer Korea Selatan "sedikit mengalami kehancuran total dan kehancuran."
Sebelumnya, pada Minggu (3/4), Kim Jo Yong menggambarkan pernyataan dari Suh Wook sebagai "hal yang sembrono" dan mengatakan bahwa Korea Selatan harus "mendisiplinkan dirinya sendiri jika ingin mencegah bencana".
Sebagaimana diketahui, Korea Utara telah berulang kali memperingatkan akan siap untuk menggunakan senjata nuklirnya ketika diancam oleh saingannya dan telah mempercepat pengembangan persenjataan militernya sejak Kim mengambil alih kepemimpinan lebih dari satu dekade lalu.
Kim Jo Yong diketahui sempat menangguhkan uji coba jarak jauh dan nuklir untuk sementara waktu, ketika Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu Donald Trump setuju untuk bertemu dengan Kim Jong Un dalam rangka serangkaian pertemuan puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sayangnya, inisiatif diplomatik tersebut gagal pada tahun 2019 dan pembicaraan denuklirisasi sejak saat itu terhenti. Sekarang, Kim tampaknya kembali ke ambang batas militer dalam upaya untuk mengekstraksi konsesi dari AS, dengan Pyongyang melakukan serangkaian tes senjata tahun ini.
(wk/tiar)