Macron Terpilih Kembali Jadi Presiden Prancis Picu Aksi Protes, 2 Orang Tewas Ditembak Polisi
Dunia

Tidak jauh dari tempat Emmanuel Macron memberikan pidato kemenangan di pusat kota Paris pada Minggu (24/4), bentrokan buruk antara polisi anti huru-hara dan pengunjuk rasa terjadi.

WowKeren - Emmanuel Macron kembali terpilih menjadi Presiden Prancis usai mengalahkan lawannya, Marine Le Pen, dalam Pilpres pada Minggu (24/4). Dengan demikian, Macron akan kembali memimpin Prancis selama lima tahun ke depan dan menjadi presiden pertama yang memenangkan pemilihan kembali dalam 20 tahun.

Namun terpilihnya kembali Macron membuat para pengunjuk rasa yang marah turun ke jalanan Paris pada hari Minggu. Tidak jauh dari tempat Macron memberikan pidato kemenangan di pusat kota Paris, bentrokan buruk antara polisi anti huru-hara dan pengunjuk rasa terjadi.

Beberapa ratus demonstran dari kelompok ultra-kiri turun ke jalan di beberapa kota Prancis untuk memprotes pemilihan kembali Macron dan skor Le Pen. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan aksi di Paris dan kota barat Rennes.

Satu klip menunjukkan ratusan polisi anti huru hara menyerbu pengunjuk rasa secara bersamaan - sementara siulan keras, teriakan dan suara kaca pecah dapat terdengar. Polisi juga terpaksa menembaki mobil yang melaju ke arah mereka di pusat kota.

Menurut sumber polisi, mobil itu melaju melawan arus lalu lintas ke arah petugas. Akhirnya, petugas terpaksa melepaskan tembakan dan menewaskan dua orang di dalamnya.


Sementara itu, Presiden Macron menghadapi serangkaian tantangan dalam masa jabatan keduanya. Dimulai dengan pemilihan parlemen pada Juni, di mana mempertahankan mayoritas akan sangat penting untuk memastikan dia dapat mewujudkan ambisinya untuk mereformasi Prancis.

Dalam pidato kemenangan di Champ de Mars di pusat kota Paris di kaki Menara Eiffel, Macron bersumpah untuk menanggapi kemarahan para pemilih yang mendukung saingan sayap kanannya. Ia menjanjikan "metode baru" untuk memerintah Prancis.

"Jawaban harus ditemukan atas kemarahan dan ketidaksepakatan yang menyebabkan banyak rekan senegaranya memilih sayap kanan ekstrem," kata Macron kepada ribuan pendukungnya yang bersorak. "Itu akan menjadi tanggung jawab saya dan orang-orang di sekitar saya."

Sebagai informasi, Macron menang dengan 58 persen suara, sedang Le Pen meraup 42 persen suara. Perbedaannya lebih tipis daripada tahun 2017 lalu, ketika dua kandidat yang sama bertemu di putaran kedua dan Macron mengumpulkan lebih dari 66 persen suara.

Bagi Le Pen, kekalahan ketiganya dalam Pilpres Prancis akan menjadi pil pahit yang harus ditelan setelah dia berusaha keras selama bertahun-tahun untuk membuat dirinya dapat dipilih. Ia juga telah berusaha menjauhkan partainya dari warisan pendirinya, ayahnya Jean-Marie Le Pen.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait