Hasil Studi Menunjukkan Suhu Panas Imbas Krisis Iklim Memotong Waktu Tidur Manusia
Unsplash/Mert Kahveci
Dunia
Waspada Suhu Panas

Belakangan ini, sejumlah negara di dunia mengalami suhu panas yang didorong oleh krisis iklim. Suhu panas itu sendiri tampaknya berdampak pada kehidupan manusia.

WowKeren - Dalam sebuah studi terbesar hingga saat ini telah ditemukan, meningkatnya suhu tersebut memotong waktu tidur masyarakat di dunia. Sebagaimana diketahui, tidur yang baik sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh manusia.

Akan tetapi, akibat dari pemanasan global membuat meningkatnya suhu pada malam hari, bahkan lebih cepat daripada di siang hari, membuat manusia lebih sulit untuk tidur.

Sementara itu, analisis mengungkapkan bahwa rata-rata warga dunia sudah kehilangan 44 jam tidur mereka dalam setahun, yang mengarah ke 11 jam malam dengan tidur kurang dari tujuh jam, yang merupakan tolak ukur standar tidur cukup.

Di samping itu, kurang tidur juga akan meningkatkan lebih jauh karena planet ini terus memanas, tetapi hal tersebut mempengaruhi beberapa kelompok lebih dari yang lain.

Lebih lanjut, kurang tidur per derajat pemanasan sekitar seperempat lebih tinggi untuk wanita daripada pria, dua kali lebih tinggi untuk mereka yang berusia di atas 65 tahun dan tiga kali lebih tinggi untuk mereka yang berada di negara-negara yang kurang makmur.

Melansir The Guardian, para peneliti menggunakan data dari gelang pelacak tidur yang digunakan oleh 47 ribu orang selama 7 juta malam dan di 68 negara.



Sementara dalam studi sebelumnya, menunjukkan bahwa kenaikan suhu bisa merusak kesehatan, termasuk peningkatan serangan jantung, bunuh diri, dan krisis kesehatan mental, serta kecelakaan dan ceder, hingga mengurangi kemampuan untuk bekerja.

Selain itu, tidur yang buruk juga telah terbukti memiliki efek itu dan para peneliti mengatakan bahwa penelitian mereka menunjukkan tidur yang terganggu mungkin merupakan mekanisme kunci, di mana panas menyebabkan dampak kesehatan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah menurut para peneliti, data mereka tidak menunjukkan tanda-tanda orang mampu beradaptasi dengan malam yang lebih panas.

"Bagi kebanyakan dari kita, tidur adalah bagian yang sangat akrab dari rutinitas harian kita, kita menghabiskan hampir sepertiga hidup kita untuk tidur," ujar Kelton Minor dari Universitas Kopenhagen, Denmark, yang memimpin penelitian tersebut, dikutip Sabtu (21/5).

"Tetapi semakin banyak orang di banyak negara di dunia tidak cukup tidur," jelas Minor. "Dalam penelitian ini, kami memberikan bukti skala planet pertama bahwa suhu yang lebih hangat dari rata-rata mengikis tidur manusia. Ini mungkin benar-benar puncak gunung es, karena kemungkinan besar perkiraan kami konservatif."

Minor lantas mengungkapkan bahwa tidur yang berkurang karena malam yang lebih hangat mempengaruhi populasi besar, misalnya malam di atas 25 derjat C di kota berpenduduk sejuta orang akan mengakibatkan 46 ribu orang tambahan menderita kurang tidur.

"Dan jika Anda melihat gelombang panas yang terjadi saat ini di India dan Pakistan, kita berbicara tentang miliaran orang yang terpapar kondisi yang diperkirakan akan mengakibatkan kurang tidur," beber Minor.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts