Buruh pabrik rokok di DIY protes peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang dinilai mengancam kelangsungan perekonomian mereka. Mereka pun menuntut solusi dari pemerintah.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 31 Mei 2022 - 19:57 WIB
WowKeren - Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Tapi rupanya tak semua orang menyambut baik peringatan tersebut.
Para buruh pabrik Tembakau di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) salah satunya. Pasalnya, para buruh menilai kampanye antitembakau berdampak terhadap kondisi perekonomian mereka.
Ketua Forum Serikat Pekerja Rokok Tembakau, Makanan-Minuman, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Waljid Budi Lestarianto menyebut, tembakau dan olahannya hingga saat ini di Indonesia belum menjadi barang atau produk yang dilarang pemerintah. Sehingga Walji menilai, perayaan Hari Tanpa Tembakau seharusnya tidak ada.
"Kalau tembakau itu masih boleh ditanam, masih boleh diproduksi, dikonsumsi mengapa ada peringatan itu (Hari Tanpa Tembakau). Kami meminta pemerintah melarang peringatan itu. Kecuali jika pemerintah telah menetapkan tembakau itu sebagai barang yang dilarang seperti ganja," ungkap Walji.
Waljid menjabarkan alasan lain Hari Tanpa Tembakau harus ditolak. Salah satunya karena pemerintah hingga saat ini masih mendapatkan sejumlah keuntungan dari tembakau maupun hasil olahannya.
"Dana dari cukai selama ini dinikmati oleh pemerintah. Ini dipakai untuk menambal kekurangan anggaran pemerintah, seperti untuk menalangi BPJS. Kalau pemerintah masih mengandalkan dana dari cukai sebaiknya Hari Tanpa Tembakau ini dilarang di Indonesia," jelas Waljid.
Waljid pun menilai kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia turut mengurangi produksi hasil olahan tembakau di pabrik-pabrik. Hal itu pun memicu timbulnya kekhawatiran di antara para pekerja di sektor olahan tembakau.
"Ada 6 pabrik rokok di DIY. Total buruhnya ada hampir 5 ribu orang. Sementara untuk lahan pertanian tembakau di DIY ada ratusan hektare. Kalau tembakau dilarang terus, bagaimana nasib mereka," papar Waljid.
Walji pun menantang para aktivis antitembakau maupun pemerintah untuk mengeluarkan roadmap tentang tembakau dan industrinya. Roadmap tersebut misalnya berisi rancangan larangan tentang tembakau 10 tahun mendatang besereta solusianya bagi para buruh pabrik.
"Kita perlu win-win solution. Jangan cuma teriak antitembakau saja tapi nasib buruh-buruh di pabrik rokok ini juga dipikirkan masa depannya. Intinya soal tembakau atau tidak, buruh punya kepastian untuk bekerja dan memiliki upah yang layak. Terserah mau kerja di pabrik rokok atau di mana pun," pungkas Waljid.
(wk/amel)