Potensi banjir yang meningkat dan juga tanah longsor disebut oleh para ahli tak lepas dari perubahan iklim yang berlangsung yang mendorong curah hujan lebih tinggi.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 01 Juni 2022 - 10:07 WIB
WowKeren - Hujan deras yang terjadi di timur laut Brasil telah menyebabkan 100 orang tewas. Hujan yang terjadi mengakibatkan banjir dan tanah longsor, di mana tanah longsor telah menghancurkan seluruh komunitas miskin di luar kota Recife.
AFP melaporkan bahwa pejabat manajemen bencana mengatakan pada Selasa (31/5) bahwa setidaknya 14 orang masih hilang. Presiden Brasil Jair Bolsonaro juga sempat mengunjungi lokasi bencana dengan terbang di atas daerah itu pada Senin. Dia berjanji untuk berupaya meringankan rasa sakit dari warganya yang terdampak.
Bencana serupa baru-baru ini terjadi di pegunungan di atas Rio de Janeiro, di negara bagian Bahia selatan dan di negara bagian Minas Gerais. Banjir dan hujan lebat mengakibatkan ratusan orang tewas dan memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka selama setahun terakhir.
Bolsonaro menyayangkan kejadian ini, dan berjanji akan mengalokasikan 210 juta dolar AS untuk membantu para korban. Dia menyampaikan bela sungkawa dan simpati pada keluarga yang ditinggalkan.
"Sayangnya, bencana ini terjadi di negara seukuran benua," kata Bolsonaro. "Kami semua jelas sedih. Kami menyampaikan simpati kami kepada anggota keluarga. Tujuan kami yang lebih besar adalah untuk menghibur keluarga dan juga, dengan sarana materi, melayani penduduk."
Sementara itu, potensi banjir yang meningkat dan juga tanah longsor disebut oleh para ahli tak lepas dari perubahan iklim yang berlangsung. Perubahan iklim telah mendorong curah hujan yang lebih tinggi.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas menilai ilmu pengetahuan terkait perubahan iklim, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bahkan menyebut Recife sebagai salah satu wilayah metropolitan yang paling rentan di dunia. Wilayah-wilayah seperti Recife, Buenos Aires, dan Rio de Janeiro sangat rentan terhadap variabilitas iklim dan peristiwa hidrometeorologi ekstrem.
"Secara global, pertumbuhan paling cepat dalam kerentanan dan keterpaparan perkotaan terjadi di kota-kota dan permukiman di mana kapasitas adaptif terbatas," kata IPCC. "Terutama di permukiman yang tidak terencana."
(wk/zodi)