Mata uang Jepang secara singkat mempercepat penurunannya untuk diperdagangkan di sekitar angka 135,20, yang merupakan level terlemah sejak Oktober 1998.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 13 Juni 2022 - 14:25 WIB
WowKeren - Yen mencatat penurunan tajam pada Senin (13/6) dalam nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Negeri Sakura itu tergelincir ke level terendah dalam lebih dari 23 tahun.
Mata uang Jepang secara singkat mempercepat penurunannya untuk diperdagangkan di sekitar 135,20, level terlemah sejak Oktober 1998. Penurunan ini membuat Jepang khawatir dengan juru bicara pemerintah mengatakan pada hari yang sama bahwa mereka akan merespons dengan tepat.
Pernyataan itu menggemakan pernyataan bersama pada hari Jumat oleh pemerintah dan bank sentral. Kepala Sekretaris Kabinet Hirokazu Matsuno mengatakan dalam konferensi pers bahwa penting untuk menjaga nilai mata uang mereka tetap stabil.
"Penting bahwa nilai tukar mata uang bergerak dengan cara yang stabil, mencerminkan fundamental," ujarnya. "Tetapi baru-baru ini ada penurunan tajam yen, yang kami khawatirkan."
Matsuno menolak berkomentar apakah Tokyo akan melakukan intervensi untuk mengekang penurunan tajam yen. "Kami siap untuk merespons dengan tepat sesuai kebutuhan, sambil berkomunikasi erat dengan otoritas mata uang masing-masing negara," lanjutnya.
Tidak seperti bank sentral utama lainnya yang menandai kenaikan suku bunga agresif untuk mengatasi inflasi, Bank of Japan (BOJ) telah berulang kali berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga rendah, sehingga hal itu membuat aset Jepang kurang menarik bagi investor. Akibat adanya perbedaan kebijakan yang meningkat, membuat yen turun lebih dari 15 persen terhadap dolar sejak awal Maret.
Sementara itu Kepala bank sentral Haruhiko Kuroda juga memperingatkan kerugian dari penurunan yen. Sebelumnya, dia bersikeras bahwa kelemahan mata uang secara umum baik untuk ekonomi yang bergantung pada ekspor.
Namun kini pendirian itu tampaknya telah bergeser. Selanjutnya, dia mengatakan BOJ akan terus berkomunikasi dengan pemerintah untuk memahami dampak pergerakan mata uang terhadap perekonomian.
"Penurunan tajam yen baru-baru ini negatif bagi ekonomi Jepang," kata Kuroda. "Dan karena itu tidak diinginkan, karena menyulitkan perusahaan untuk menetapkan rencana bisnis."
(wk/zodi)