Puluhan Sungai di Bangladesh Tercemar Parah Imbas Limbah Industri Garmen
AFP
Dunia

Di balik perkembangan ekonomi yang pesat ada harga mahal yang harus dibayar Bangladesh, dengan para pemerhati lingkungan mengatakan bahan kimia berbahaya mencemari air.

WowKeren - Bangladesh telah muncul sebagai negara dengan perekonomian sukses namun tidak banyak diketahui. Di balik pertumbuhan ekonominya, ada industri garmen yang berkembang pesat yang telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan wanita dan menyumbang sekitar 80 persen dari ekspor tahunan.

Namun di balik perkembangan ekonomi yang pesat ada harga mahal yang harus dibayar. Para pemerhati lingkungan mengatakan campuran pewarna beracun, asam penyamakan, dan bahan kimia berbahaya lainnya masuk ke dalam air.

Dhaka didirikan di tepi Buriganga lebih dari 400 tahun yang lalu oleh kerajaan Mughal. Sheikh Rokon selaku kepala kelompok hak lingkungan Riverine People mengatakan jika tempat itu telah menjadi saluran pembuangan terbesar.

Bangladesh adalah negara delta yang dilintasi oleh lebih dari 200 saluran air, masing-masing terhubung ke sungai Gangga dan Brahmaputra yang mengalir dari Himalaya. Lebih dari seperempatnya sekarang sangat terkontaminasi dengan polutan industri.



Menurut makalah tahun 2020 oleh Institut Penelitian Sungai pemerintah Bangladesh, sampel air dari sungai menunjukkan kadar kromium dan kadmium lebih dari enam kali maksimum yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kedua elemen itu digunakan dalam penyamakan kulit yang mana paparan berlebihan dari keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Selama berabad-abad orang membangun rumah mereka di tepiannya," tambah Rokon. "Sekarang bau lumpur beracun selama musim dingin begitu mengerikan sehingga orang-orang harus menutup hidung mereka saat mendekatinya."

Amonia, fenol, dan produk sampingan dari pewarnaan kain telah membuat sungai kekurangan oksigen untuk menopang kehidupan laut. Di Shyampur, 300 pabrik lokal membuang air limbah yang tidak diolah ke sungai Buriganga.

Di Distrik Narayanganj, warga menunjukkan aliran air berwarna merah tua mengalir ke saluran yang tergenang dari pabrik terdekat. Pabrik-pabrik kecil dan sub-kontraktor yang beroperasi dengan margin tipis industri mengatakan bahwa mereka tidak mampu membayar biaya pengolahan air limbah.

Seorang pejabat tinggi garmen di distrik industri Savar mengatakan sebagian besar pabrik kelas atas yang melayani merek-merek besar Amerika Serikat dan Eropa sering tidak menyalakan mesin perawatan. "Mereka ingin menghemat biaya," katanya.

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts