Penyakit Cacar Monyet Mungkin Akan Punya Nama Baru, Ini Alasannya
AFP
Dunia
Wabah Cacar Monyet

Organisasi Kesehatan Dunia alias (WHO) telah mengumumkan bahwa mereka bekerja dengan mitra dan ahli dari seluruh dunia untuk mengubah nama virus monkeypox, klade-nya, dan penyakit yang ditimbulkannya.

WowKeren - Penyakit cacar monyet alias monkeypox kemungkinan akan segera memiliki nama baru. Organisasi Kesehatan Dunia alias (WHO) telah mengumumkan bahwa mereka bekerja dengan mitra dan ahli dari seluruh dunia untuk mengubah nama virus monkeypox, klade-nya, dan penyakit yang ditimbulkannya.

Klade cacar monyet yang merupakan cabang berbeda dari pohon keluarga virus tersebut sangat kontroversial karena dinamai sesuai wilayah Afrika. Para ilmuwan lantas menyerukan perubahan nama untuk menghilangkan stereotip Afrika sebagai wadah penyakit.

Beberapa hari sebelum WHO mengumumkan akan mengubah nama cacar monyet, kelompok yang terdiri dari 29 ilmuwan sempat menulis surat yang mengatakan ada "kebutuhan mendesak untuk nomenklatur yang tidak diskriminatif dan tidak menstigmatisasi" bagi virus tersebut. Surat yang ditandatangani oleh beberapa ilmuwan Afrika terkemuka tersebut menyerukan agar nama-nama cacar monyet "Afrika Barat" dan "Afrika Tengah" atau "Cekungan Kongo" diubah.

Menurut isi surat tersebut, "hampir semua" wabah di Afrika dipicu oleh orang-orang yang tertular virus dari hewan dan bukan dari orang lain. Tetapi ahli epidemiologi di Universitas Cambridge, Olivier Restif, menyebut wabah saat ini tidak biasa karena "murni menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia".



"Jadi, wajar untuk mengatakan bahwa wabah saat ini tidak ada hubungannya dengan Afrika, dengan cara yang sama seperti gelombang dan varian COVID-19 yang masih kita hadapi, tidak ada hubungannya dengan kelelawar Asia dari mana virus awalnya datang beberapa tahun yang lalu," paparnya.

Adapun perubahan nama penyakit cacar monyet tersebut mendapat dukungan dari Oyewale Tomori, seorang ahli virus di Redeemer's University di Nigeria. Menurutnya, nama "cacar monyet" sendiri sudah tidak tepat.

"Tetapi bahkan nama cacar monyet itu menyimpang. Itu bukan nama yang tepat," ujarnya kepada AFP. "Kalau saya monyet, saya akan protes karena sebenarnya itu bukan penyakit monyet."

Virus tersebut dinamai cacar monyet usai pertama kali ditemukan di antara monyet di laboratorium Denmark pada tahun 1958. Meski demikian, manusia kebanyakan tertular virus tersebut dari hewan pengerat.

Sebagai informasi, cacar monyet sebelumnya sebagian besar hanya terbatas di wilayah Afrika Barat dan Afrika Tengah. Namun sejak Mei 2022 lalu, versi baru virus tersebut telah tersebar ke beberapa negara. Berdasarkan catatan WHO, dari sedikitnya 2.100 kasus cacar monyet yang tercatat secara global tahun ini, 84 persen berada di Eropa, 12 persen di Amerika dan hanya tiga persen yang ada di Afrika.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts