Pekerja Tambang Perempuan di Australia Jadi Sasaran Kekerasan Seksual Mengerikan
Pixabay/hangela
Dunia

Penyelidikan mengungkap fakta mengerikan terkait kekerasan seksual yang dialami pekerja tambang perempuan di Australia Barat. Para korban turut mengungkap cerita mengerikan.

WowKeren - Perempuan yang bekerja di sektor pertambangan di Australia Barat menjadi sasaran pelecehan dan pelecehan seksual "mengerikan" yang mewakili kegagalan "sistematis" pengawasan industri dan pemerintah. Hal itu disampaikan dalam sebuah laporan parlemen pada Kamis (23/6).

Sebuah komite anggota parlemen negara bagian merilis laporan itu setelah melakukan penyelidikan selama hampir setahun. Di mana penyelidikan tersebut dipicu oleh banyaknya wanita yang mengajukan pengaduan ke polisi.

"Saya tahu cerita mengerikan akan dibawa ke depan. Tapi saya terkejut dan sangat terkejut dengan ukuran dan kedalaman masalahnya," tulis Libby Lettam, ketua komite dalam laporan tersebut, melansir United Press International.

Lusinan wanita membagikan kesaksian mereka tentang kondisi 'mengerikan' di tambang Australia Barat, yang sebagian besar beroperasi di bawah sistem "terbang, terbang keluar". Di mana para pekerja tinggal selama berminggu-minggu di lokasi terpencil.

Seorang pekerja menggambarkan ia dibuat pingsan di perumahan on-site dan bangun dengan jeans dan celana dalam di sekitar pergelangan kakinya. "Saya merasa sakit, malu, dilanggar, kotor dan sangat bingung," katanya dalam penyelidikan.



Yang lain menceritakan kisah hampir mengalami kecelakaan saat mengemudikan truk dan diberi tahu oleh atasannya bahwa dia akan membuat penyelidikan keselamatan "hilang" jika dia berhubungan seks dengannya. Dia juga diberitahu bahwa dia harus "berlutut" untuk dipekerjakan sebagai pekerjaan tetap di perusahaan tersebut.

Laporan tersebut menggambarkan lingkungan pelecehan yang hampir terus-menerus dan kemajuan yang tidak diinginkan di kamp-kamp pertambangan. Serta beberapa insiden penguntitan, tawaran kemajuan pekerjaan untuk bantuan seksual dan serangan kekerasan.

"Saya telah mengunjungi sekitar setengah lusin situs, dan saya dapat dengan jujur menyatakan bahwa saya telah dilecehkan secara seksual di setiap situs," pungkas seorang wanita dalam kesaksiannya.

Sebuah studi hak asasi manusia yang dikutip dalam laporan tersebut menemukan bahwa 74% wanita yang bekerja di industri pertambangan melaporkan telah dilecehkan secara seksual dalam lima tahun terakhir. Laporan tersebut juga menunjuk pada survei anggota Aliansi Pekerja Tambang Barat yang mengatakan 32% wanita telah menerima permintaan bantuan seksual, dan bahwa 22% memiliki permintaan terkait dengan kondisi kerja atau kemajuan karir.

"Ini benar-benar tidak dapat dimaafkan dan hanya mengejutkan bahwa ini bisa terjadi di abad ke-21 di salah satu industri negara yang paling menguntungkan," pungkas Lettam.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts