Para pengunjuk rasa menemukan 17,85 juta rupee (Rp734 juta) berupa uang tunai kertas dan menyerahkannya kepada polisi setelah penyerbuan istana Presiden pada hari Sabtu (9/7).
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 11 Juli 2022 - 18:46 WIB
WowKeren - Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah melarikan diri dari kediamannya ketika para pengunjuk rasa membobol masuk ke sana. Saat melarikan diri, dia pun meninggalkan jutaan rupee.
Para pengunjuk rasa menemukan 17,85 juta rupee (Rp734 juta) berupa uang tunai kertas dan menyerahkannya kepada polisi setelah penyerbuan istana Presiden pada hari Sabtu (9/7). "Uang itu diambil alih oleh polisi dan akan diserahkan ke pengadilan hari ini," kata juru bicara kepolisian.
Menurut sumber resmi, sebuah koper yang berisi dokumen juga ditinggalkan di kediaman presiden. Sebagaimana diketahui, Rajapaksa menempati gedung berusia dua abad itu setelah diusir dari rumah pribadinya saat pengunjuk rasa mencoba menyerbunya pada 31 Maret lalu.
Sumber mengatakan kepada AFP jika Rajapaksa kabur melalui pintu belakang di bawah pengawalan personel angkatan laut. Dia pergi dengan perahu menuju timur laut pulau itu.
Meski sebelumnya bersikeras bahwa dirinya tidak akan mundur, namun tampaknya Rajapaksa menyerah dengan desakan pengunjuk rasa yang terus menjadi-jadi. Hingga Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan Rajapaksa telah secara resmi memberitahunya tentang niatnya untuk mengundurkan diri.
Hingga Senin (11/7) pagi, masih belum diketahui di mana keberadaan pasti Rajapaksa. Nantinya, jika Rajapaksa mengundurkan diri, Wickremesinghe akan secara otomatis menjadi penjabat presiden.
Namun kini yang menjadi masalah adalah bahwa dirinya sendiri telah mengumumkan kesediaannya untuk mundur jika konsensus tercapai untuk membentuk pemerintahan persatuan. Rajapaksa mengatakan dirinya akan mundur pada Rabu pekan ini.
Publik Sri Lanka tidak puas dengan pemerintahan Rajapaksa. Mereka menuduh presiden tidak menangani dengan tepat perekonomian negara itu yang membawanya pada krisis seperti yang terjadi saat ini. Sri Lanka telah kehabisan devisa untuk membiayai impor sehingga menyulitkan warganya sendiri.
Sri Lanka gagal membayar utang luar negerinya pada bulan April dan sedang dalam pembicaraan dengan IMF untuk kemungkinan bailout. Negara itu hampir kehabisan pasokan bensin yang sudah langka.
(wk/zodi)