IMF Peringatkan Risiko Resesi Global Meningkat Imbas Krisis Biaya Hidup yang Memburuk
Unsplash/Markus Spiske
Dunia

Krisis global yang dihadapi oleh dunia saat ini tampaknya semakin memburuk. Bahkan IMF pun memperingatkan akan risiko resesi global yang diprediksi bakal meningkat.

WowKeren - Dunia saat ini tengah dihadapkan dengan segala bentuk krisis global, mulai pangan hingga energi. Kepala IMF Kristalina Georgieva bahkan mengungkapkan bahwa prospek ekonomi global telah "gelap secara signifikan" dalam beberapa bulan terakhir.

Georgieva pun memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi peningkatan risiko resesi dalam 12 bulan ke depan. Adapun guncangan harga komoditas dari perang di Ukraina telah memperburuk krisis biaya hidup bagi ratusan juta orang, dan ini dinilai semakin memburuk.

Dalam unggahan blog pada Rabu (13/7), Georgieva mengatakan bahwa inflasi juga lebih tinggi dari yang dibayangkan. Kemudian angka terbaru juga menunjukkan bahwa harga di Amerika Serikat (AS) naik pada level tertinggi 40 tahun sebesar 9,1% pada bulan Juni.

Sementara ekonom dan investor saat ini disebut tengah berpikir Federal Reserve AS bisa menaikkan suku bunga sebesar 1 persen bersejarah ketika dewan bertemu dalam waktu dua minggu.


Sementara pada Rabu (13/7), Bank of Canada mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga dasarnya dengan poin persentase penuh, sementara Reserve Bank of New Zealand meningkatkan suku bunga acuan sebesar 0,5 persen minggu ini, seperti yang dilakukan Bank of Korea.

Kemudian pada Kamis (14/7), Bank sentral Singapura juga memperketat kebijakan moneternya. Melansir The Guardian, seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed lainnya, hal ini terus meningkatkan tekanan pada bank sentral lain untuk mengikutinya guna mengendalikan inflasi.

Di sisi lain, dengan kemacetan pasokan dan penguncian COVID-19 yang berulang di Tiongkok juga menghambat pemulihan pandemi dunia yang tidak merata. Georgieva mengatakan kepada menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 yang berkumpul di Bali, bahwa mereka menghadapi prospek ekonomi global yang telah menjadi gelap secara signifikan.

"Prospeknya tetap sangat tidak pasti. Pikirkan bagaimana gangguan lebih lanjut dalam pasokan gas alam ke Eropa dapat menjerumuskan banyak ekonomi ke dalam resesi dan memicu krisis energi global," ujar Georgieva dalam keterangan tertulis, dilihat melalui The Guardian, Kamis (14/7).

"Ini hanyalah salah satu faktor yang dapat memperburuk situasi yang sudah sulit," lanjut Georgieva. "Ini akan menjadi 2022 yang sulit – dan mungkin 2023 yang lebih sulit, dengan peningkatan risiko resesi."

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait