Dalam hasil survei Bloomberg, Indonesia menduduki peringkat ke-14 negara berpotensi resesi dengan presentase 3 persen. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko lantas buka suara.
- Bertilia Puteri
- Senin, 25 Juli 2022 - 17:04 WIB
WowKeren - Indonesia masih dalam daftar 15 negara yang terancam mengalami resesi berdasarkan hasil survei Bloomberg. Indonesia menduduki peringkat ke-14 negara berpotensi resesi dengan presentase 3 persen.
Kekinian, pihak Istana buka suara atas peringkat Indonesia tersebut. Menurut Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko, posisi ekonomi Indonesia masih lebih baik dibanding negara lain meski masuk daftar tersebut.
"Kita masih Alhamdulillah pada ranking yang ke-14 dari 15. Itu kita pada risiko 3 persen," ujar Moeldoko pada Senin (25/7).
Lebih lanjut, Moeldoko menyatakan bahwa tingkat inflasi Indonesia lebih baik dari negara lain. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam keadaan baik.
Meski begitu, Moeldoko juga mengakui bahwa ada beberapa kenaikan harga bahan pokok seperti minyak goreng. Moeldoko mengatakan bahwa perekonomian dunia memang tengah mengalami fase sulit.
"Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa kondisi lingkungan global memang tidak sedang baik kondisinya, dan kondisi ekonomi nasional kita relatif cukup baik," kata Moeldoko.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menanggapi hasil survei Bloomberg tersebut. Senada dengan Moeldoko, Sri Mulyani juga mengatakan bahwa Indonesia memiliki indikator ekonomi yang lebih baik dibanding negara-negara lain dalam daftar tersebut.
"Indikator neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan dari GDP (produk domestik bruto), dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga, serta monetary policy kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3 persen, dibandingkan negara lain yang potensi untuk bisa mengalami resesi jauh di atas, yaitu di atas 70 persen," ungkap Sri Mulyani beberapa waktu lalu.
Meski begitu, Sri Mulyani mengingatkan bahwa Indonesia masih tetap harus waspada terhadap potensi resesi. Mengingat negara-negara di dunia kini masih dibayangi resesi dan kenaikan inflasi.
"Kita tetap harus waspada karena ini akan berlangsung sampai tahun depan," tukasnya.
(wk/Bert)