Kemenkes Beber Belum Ada Rencana Beri Booster Anak Usia 6-11 Tahun, Masih Kajian
Pxhere
Nasional
Booster COVID-19

Booster COVID-19 saat ini tengah menjadi fokus pemerintah dalam memerangi pandemi di Indonesia. Namun Kemenkes menyampaikan belum ada rencana booster untuk anak usia 6-11 tahun.

WowKeren - Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggenjot laju vaksinasi COVID-19 dosis lanjutan atau booster. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa booster bagi anak sekolah berusia 6-11 tahun di Indonesia belum ada rencana.

Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menuturkan bahwa untuk saat ini, pemerintah masih berfokus pada pelaksanaan booster pertama atau vaksinasi COVID-19 dosis ketiga pada kriteria usia 18 tahun ke atas. Menurutnya, vaksinasi booster bagi anak sekolah masih perlu menunggu kajian lebih lanjut.

"Vaksin booster anak-anak masih kajian," ujar Syahril kepada wartawan di Kantor Google Indonesia, Rabu (10/8). "Sekarang ini prioritas kita adalah booster pertama atau vaksin ketiga untuk seluruh masyarakat, karena capaian kita baru 28 persen kurang lebih, kan kita minimal 50 persen. Jadi tolong disampaikan risiko ini kepada masyarakat."

Lebih lanjut, Syahril kemudian meminta agar orangtua dan pihak sekolah tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes), serta menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai sikap dan upaya mitigasi untuk mencegah penularan COVID-19 pada anak-anak. Terlebih saat ini sekolah juga telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen.


Selain itu, kata Syahril, pihak terkait juga harus mengawasi lingkungan sekolah, termasuk kantin-kantin karena saat ini tidak hanya ada ancaman COVID-19 saja, tetapi juga hepatitis misterius dan sebagainya. Ia kemudian membeberkan alasan Kemenkes yang masih belum memulai vaksinasi booster pertama bagi anak-anak sekolah usia 6-11 tahun.

Menurut Syahril, alasan Kemenkes belum ada rencana untuk memberikan booster kepada anak usia 6-11 tahun adalah dikarenakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin daruat penggunaan (EUA) vaksin Pfizer untuk usia remaja pada 2 Agustus 2022 lalu.

Selain itu, kata Syahril, operasional vaksin remaja di lapangan lebih sulit dibandingkan dnegan kategori usia lainnya karena rentang usianya lebih sempit. Kemudian EUA yang diberikan oleh BPOM juga hanya mengizinkan vaksin homolog atau sejenis. Sedangkan, 90 persen remaja disebut mendapatkan vaksin Sinovac.

"Yang dikeluarkan oleh BPOM itu hanya satu merek kan, sebut saja itu Pfizer," jelas Syahril. "Sementara yang sudah banyak kita lakukan ini di luar itu. Sehingga kita tunggu saja, kita lagi mencari pola agar win-win solution semua."

(wk/tiar)

You can share this post!

Artikel Terkait