WHO Ungkap Kasus Cacar Monyet di Dunia Melonjak Hingga 20 Persen
pixabay/ilustrasi/padrinan
Dunia
Wabah Cacar Monyet

WHO pada Rabu (17/8) kemarin, menyampaikan perkembangan kasus cacar monyet atau monkeypox di seluruh dunia. Tidak hanya itu, WHO juga membeberkan sejumlah hal terkait wabah ini.

WowKeren - Wabah cacar monyet atau monkeypox hingga kini rupanya masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (17/8) kemarin, menggelar konferensi pers terkait dengan perkembangan cacar monyet.

WHO membeberkan bahwa kasus cacar monyet melonjak lebih dari 20 persen di seluruh dunia pada pekan lalu. Tidak hanya itu, lebih dari 35 ribu kasus telah dilaporkan secara global, sebagian besar di Eropa dan Amerika. Kemudian, 12 kematian akibat cacar monyet juga telah dilaporkan.

Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jenderal WHO mengatakan bahwa sebagian besar kasus terus terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain. Ia juga menekankan pentingnya memastikan bahwa pasokan global vaksin cacar monyet, yang disebut Jynneos, tersedia secara luas.

"Kami tetap khawatir bahwa akses yang tidak adil ke vaksin yang kami lihat selama pandemi COVID-19 akan terulang dan bahwa yang termiskin akan terus tertinggal," ujar Tedros dilansir dari UPI, Kamis (18/8).


Tedros menekankan bahwa vaksin bisa mengurangi risiko paparan dan menurunkan risiko infeksi parah. Sementara itu, menurut Dr. Rosamund Lewis selaku pimpinan teknis cacar monyet WHO menyampaikan bahwa vaksin merupakan tindakan pencegahan yang diperlukan, meskipun tidak 100 persen efektif.

"Kami telah mengetahui sejak awal bahwa vaksin ini tidak akan menjadi peluru perak, bahwa itu tidak akan memenuhi semua harapan yang diberikan padanya, dan bahwa kami tidak memiliki data kemanjuran atau data efektivitas yang kuat dalam konteks ini," terang Lewis.

"Orang-orang memang perlu menunggu sampai vaksin dapat menghasilkan respon imun yang maksimal, tapi kami belum tahu bagaimana efektivitasnya secara keseluruhan," lanjut Lewis.

Di samping itu, Tedros menambahkan bahwa pihaknya selama pertemuan, mereka telah mengganti nama dua clade virus yang diketahui menggunakan angka Romawi. Pengumuman ini sendiri diketahui datang ketika WHO telah mempertimbangkan untuk mengubah nama virus untuk mematuhi praktik terbaik saat ini guna mencegah menyebabkan pelanggaran atau kerusakan pada budaya, nasional atau demografi atau kelompok lain, termasuk hewan.

Tedros lantas mengungkapkan dalam pertemuan tersebut, para ahli sepakat untuk mengganti nama Cekungan Kongo atau clade Afrika Tengah menjadi clade I dan clade Afrika Barat sekarang akan disebut sebagai clade II. Nantinya, mekanisme penamaan akan diterapkan ke semua clades di masa depan.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts