Tragedi Kanjuruhan: Kompolnas Sebut Tak Ada Perintah Pakai Gas Air Mata
Nasional
Tragedi Kanjuruhan

Pihak kepolisian buka suara mengenai tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter Arema FC alias Aremania. Pada tragedi tersebut, diketahui juga polisi yang menembakkan gas air mata.

WowKeren - Dunia sepak bola saat ini tengah berduka usai terjadinya tragedi Kanjuruhan beberapa waktu lalu. Dalam tragedi ini, ratusan nyawa tewas. Para tokoh hingga public figure pun berbondong-bondong mengucapkan belasungkawa atas tragedi yang menimpa suporter tim sepak bola Malang yakni Aremania.

Atas tragedi tersebut, pihak kepolisian pun buka suara. Dalam hal ini, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Albertus Wahyurudhanto menyebut bahwa tidak ada perintah dari Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat untuk membubarkan massa menggunakan gas air mata dalam insiden di Stadion Kanjuruhan.

"Tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian masa dengan gas air mata," ujar Wahyu dalam jumpa pers di Malang, Selasa (4/10).

Wahyu kemudian menerangkan bahwa dari penyelidikan awal yang dilakukan, diketahui bahwa saat pelaksanaan apel lima jam sebelum pertandingan, Ferli menyampaikan agar tidak menggunakan gas air mata bila terjadi kerusuhan. "Jadi memang kami melihat ada tindakan-tindakan preventif sudah dilakukan dari internal kepolisian," terang Wahyu.

Di samping itu, kata Wahyu, pihak Kompolnas menilai bahwa pengamanan dari Polres Malang secara prosedur sudah tepat. Terlebih lagi mereka juga telah menyiapkan dua unit Barracuda guna membawa pemain dan ofisial dari Persebaya.


Wahyu lantas mengatakan bahwa pihaknya saat ini juga masih terus menelusuri asal usul perintah penggunaan gas air mata untuk mengurai kerusuhan massa di Kanjuruhan. Penggunaan gas air mata ini disebut menjadi salah satu faktor dari ratusan suporter yang meninggal.

Sementara saat kericuhan terjadi, Wahyu mengungkapkan bahwa Ferli sedang berada di luar stadion. Ia lantas menduga ada pejabat lain yang menginstruksikan untuk menggunakan gas air mata untuk mengurai massa.

"Kapolres kan ada di luar karena mengamankan ini yang mau keluar, kejadian di dalam, berarti ada pejabat di dalam yang memerintahkan," terang Wahyu. "Nah, siapa orangnya ini sedang disidik, tapi kan sembilan orang (polisi) sudah dicopot."

Di sisi lain, Kepala RSUD Syaiful Anwar Malang, Kohar Hari Santoso membeberkan alasan sejumlah korban meninggal yang wajahnya menghitam. Ia menyebut bahwa korban tewas yang wajahnya menghitam itu tidak bisa dijustifikasi karena gas air mata.

"Jadi kalau jenazah itu kalau posisinya ke bawah ada namanya lebam mayat, jadi jangan salah lihat. Kalau jatuhnya tengkurap akan tampak hitam," tutur Kohar kepada wartawan usai kunjungan Kapolda Jatim, Selasa (4/10). "Kalau dia telentang, akan tidak (menghitam wajahnya), kalau ke samping juga tidak ada. Hitam itu namanya lebam mayat."

Kohar kemudian memastikan tidak ada korban meninggal di RSUD Syaiful Anwar Malang yang diakibatkan luka bakar. Selain itu, ia juga memastikan bahwa kondisi korban meninggal semuanya telah diidentifikasi sebelum dibawa pulang oleh keluarga.

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait