China mengecam blokade AS di Selat Hormuz, menyebut tindakan itu tidak menyelesaikan konflik.
- Selasa, 14 April 2026 - 18:32 WIB
WowKeren - Pemerintah China mengeluarkan kritik tajam terhadap langkah blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Dalam pandangannya, tindakan sepihak ini tidak akan mengatasi akar masalah yang menyebabkan konflik di kawasan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan, "Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin." Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers di Beijing pada Selasa, 14 April 2026.
Guo juga mengingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat vital, terutama untuk komoditas energi. Ia menekankan pentingnya stabilitas wilayah tersebut sebagai kepentingan bersama bagi komunitas global.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) memberlakukan blokade total di Selat Hormuz pada tanggal 13 April 2026, pukul 14.00 waktu setempat. Langkah ini diambil berdasarkan instruksi dari Presiden Donald Trump, menyusul kegagalan perundingan antara Washington dan Teheran.
Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump mengeluarkan ancaman keras bahwa kapal-kapal Iran akan "dimusnahkan" jika mereka berani mendekati zona blokade. Ia menulis, "Jika ada kapal (Iran) yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dieliminasi menggunakan sistem yang sama dengan yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba."
Situasi ini memanas setelah pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026, gagal menghasilkan kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance pulang tanpa mencapai hasil yang diinginkan.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menuding sikap "maksimalis" dan ancaman blokade dari Angkatan Laut AS sebagai penyebab utama kegagalan nota kesepahaman (MoU). Ia menegaskan, "Kami terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, saat tinggal selangkah lagi menuju 'MoU Islamabad', kami justru menghadapi tuntutan yang berubah-ubah. Permusuhan hanya akan melahirkan permusuhan."
Menanggapi tindakan blokade tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman balasan. Mereka menyatakan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman selama blokade diberlakukan dan akan melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh untuk melintasi selat tersebut.
Pantauan terkini menunjukkan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz telah berhenti total. Banyak kapal tanker yang mulai berbalik arah untuk menghindari zona konflik. Perlu diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) di dunia.
(wk/timw)