Debat Sejarah dalam Drama 'Perfect Crown' yang Dibintangi IU dan Byeon Woo Seok
Instagram/Byeon Woo Seok/Instagram
Selebriti

Seorang sejarawan mengkritik 'Perfect Crown' sebagai sejarah alternatif yang kurang akurat.

WowKeren - Drama MBC berjudul 'Perfect Crown', yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok, menuai perhatian dan kritik dari seorang sejarawan terkait akurasi sejarahnya. Dalam analisis yang dibagikan pada 28 April, sejarawan Shim Yong Hwan mempertanyakan konsep sejarah alternatif yang diusung oleh drama ini, yang menggambarkan Korea modern dengan sistem monarki konstitusi yang masih bertahan.

Shim mengakui bahwa genre ini semakin populer, mencerminkan tren yang lebih luas dalam webtoon dan novel web. "Kekuatan terletak pada perluasan imajinasi," ujarnya, menambahkan bahwa jika didukung oleh bukti yang rinci, cerita seperti 'Perfect Crown' bisa menjadi karya yang lebih halus. Namun, ia mencatat bahwa beberapa adegan, seperti kebakaran istana, kurang akurat dari segi sejarah.

Mengenai premis utama drama ini, Shim lebih tegas. "Alasan mengapa monarki konstitusi tidak berlanjut di Korea abad ke-21 adalah, sayangnya, karena keluarga kerajaan tidak melakukan apa-apa setelah kejatuhannya," ujarnya, mengacu pada peran monarki yang menurun setelah era Joseon. Ia juga merujuk pada Pangeran Mahkota Yeongchin dan mantan presiden Syngman Rhee, menunjukkan bahwa institusi tersebut telah kehilangan pijakan politiknya.


Shim juga membahas struktur kekuasaan dalam drama, meragukan apakah karakter Byeon Woo Seok yang merupakan kerabat kerajaan bisa bertindak sebagai otoritas sejati di balik seorang raja muda. "Secara historis, itu tidak mungkin," jelasnya, menjelaskan bahwa pada masa Joseon, anggota keluarga kerajaan dilarang untuk terlibat dalam pemerintahan.

Lebih lanjut, Shim menyoroti inkonsistensi dalam gelar dan desain kostum, menjelaskan bahwa istilah seperti "yeonggam" dan "daegam" merujuk pada pangkat resmi. Mengenai pilihan busana—seperti mencampurkan lambang kerajaan atau melonggarkan jubah upacara—ia mencatat bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap protokol, tetapi bisa dilihat sebagai keputusan desain.

Meski begitu, Shim menganggap drama ini sebagai bagian dari eksperimen budaya yang lebih besar. "Gyeongbokgung, Hangul, dan Yi Sun Shin adalah cerita-cerita dari Joseon, tetapi pada kenyataannya mereka adalah aset yang kita bangun kembali dan beri makna dalam sejarah modern," ujarnya. "Karya seperti 'Perfect Crown' mungkin terlihat rendah dari perspektif sejarah, tetapi itu adalah eksperimen menarik dalam menciptakan budaya baru yang disebut Hallyu." Drama ini telah tayang enam episode hingga saat ini, dengan rating tertinggi mencapai 11,2% secara nasional menurut Nielsen Korea.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait