Menjadi bagian dari 'Sea Soldier' membuat Nadine Chandrawinata lebih gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga alam.
- Tim WowKeren
- Kamis, 19 April 2018 - 10:10 WIB
WowKeren - Putri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata, memang kerap terlihat aktif menjelajah berbagai daerah di Indonesia. Jarang terlihat di layar lebar maupun televisi, Nadine rupanya tengah bergabung dalam organisasi Sea Soldier.
Sea Soldier adalah organisasi yang mendorong masyarakat untuk menjaga biota laut Indonesia sekaligus melakukan kegiatan amal. Sea Soldier juga memamerkan keindahan laut untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam Indonesia.
Melalui organisasi tersebut, Nadine mencoba berkomitmen untuk lebih ramah lingkungan. Wanita 33 tahun ini pun berusaha bijak dengan mengurangi penggunaan plastik karena sifatnya yang sulit terurai.
"Mencoba belajar berkomitmen diri untuk lebih ramah lingkungan pada diri sendiri. Mengurangi penggunaan plastik, karena plastik itu susah terurai," ujar Nadine saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu (18/4). "Setidaknya kita mencoba untuk menjadi orang yang bijak dengan apa yang kita kerjakan."
Ketika disinggung soal sang kekasih, Dimas Anggara Nadine justru menolak untuk menjawab dan meminta awak media mengajukan pertanyaan lain. "Boleh pertanyaan lain?" pinta Nadine. Namun ketika wartawan menanyakan soal terumbu karang, Nadine justru dengan antusias berpendapat.
Nadine menyayangkan perusakan terumbu karang yang masih berlangsung hingga detik ini. Menurutnya, hal tersebut tidak pantas dilakukan, mengingat terumbu karang adalah rumah bagi hewan-hewan laut.
"Sangat disayangkan bahwa hal tersebut bisa terjadi. Bayangkan kalau rumah kita diangkat, kemudian dikasih racun di dalam rumah, setelah itu dibalikin lagi," ujar Nadine. "Tindakan yang merusak karang itu sangat disayangkan dan sangat kurang tepat melakukan atraksi itu."
Tak hanya peduli soal terumbu karang, Nadine juga tengah mengedukasi masyarakat soal bahaya sirkus lumba-lumba. Menurut Nadine, jenis sirkus yang hanya ada di Indonesia ini terlalu mengeksploitasi lumba-lumba. Hal tersebut membuat lumba-lumba tersiksa bahkan tak jarang terserang stres.
(wk/)