Anak Mendiang Teroris Beber Kelakuan Ayah Semasa Hidup ke Kapolri, Diajak 'Berjihad'
Instagram/polisi_indonesia
Nasional

Seorang anak teroris yang berhasil selamat dari ledakan bom membeberkan semua kebiasaan sang ayah semasa hidup, termasuk cara merakit bom.

WowKeren - Sejumlah teror bom yang terjadi Surabaya akhir-akhir ini ikut memakan korban anak-anak. Bukan hanya korban dari kalangan masyarakat, namun anak-anak dari para teroris tersebut juga ikut menjadi korban. Pasalnya, para teroris tersebut diketahui mengajak anak-anak mereka untuk melakukan aksinya.

Salah satu anak teroris yang ikut menjadi saksi hidup berinisial A, yang masih berusia 15 tahun. A merupakan anak dari Anton Febrianto, pria yang tinggal di Rusunawa Sidoarjo yang tewas karena bom yang dirakitnya meledak.

Istri dan salah seorang anak Anton meninggal seketika karena ledakan bom tersebut. Namun Anton sempat hidup meski terluka parah dan ditembak oleh petugas karena mengancam akan kembali meledakkan diri.

Dari peristiwa tersebut A berhasil selamat beserta kedua adiknya, F (11) dan H (11). Saat dikunjungi oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, A pun membeberkan sikap sang ayah semasa hidup. Menurutnya, sehari-hari Anton bekerja sebagai penjual jam online dan sering mendengarkan ceramah melalui internet.

"Dia menceritakan bahwa kegiatan ayahnya, Anton Febrianto, sehari-hari menjadi penjual jam tangan online," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal pada Selasa (15/5). "Dan sering kali mendengarkan ceramah melalui internet."

Bukan cuma itu, A mengaku kerap diajak "berjihad" oleh sang ayah namun ia mengaku selalu menolaknya. A mengaku merasa ajaran yang diberikan sang ayah padanya tak sesuai dengan pemikirannya.

"A juga mengatakan ayahnya sering kali mengajaknya 'berjihad'," tambah Brigjen Mohammad Iqbal. "Namun ia menolak dengan alasan tidak sesuai pemikirannya dan bertolak belakang dengan ajaran Islam."

Selain itu A juga membenarkan bahwa bom yang meledak itu memang dirakit sendiri oleh sang ayah. Awalnya, A mengaku tak paham jika benda yang dirakit oleh ayahnya merupakan sebuah bom yang akan diedakkan saat melakukan aksinya.

"Bahwa bom yang meledak pada malam itu memang benar milik ayahnya yang dirakit sendiri," ujar Brigjen Mohammad Iqbal. "A tidak memahami bahwa yang dirakit oleh ayahnya itu adalah sebuah bom."

A juga mengungkapkan ayahnya belajar merakit bom tersebut dengan melihatnya melalui internet serta video di YouTube. "Hasil belajar melalui internet dan YouTube," tutur Brigjen Mohammad Iqbal.

Saat ini A dan kedua adiknya masih mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur. Ketika sang ayah meledakkan bom, A berhasil menghindar dan menyelamatkan kedua adiknya.

You can share this post!

Related Posts