Sang Adik Sempat Terjebak di Dalam Gereja Saat Gempa Palu, Ray Sahetapy: Perih
Instagram/raysahetapy
Selebriti
Gempa Tsunami Palu Donggala

Semasa kecil, Ray Sahetapy tinggal dan bersekolah di Palu, Sulawesi Tengah.

WowKeren - Gempa disusul tsunami yang terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah, masih menyisakan duka yang mendalam bagi korban maupun keluarganya. Seperti yang dirasakan aktor kawakan Ray Sahetapy. Semasa kecil, Ray diketahui tinggal dan bersekolah di Palu.

Saat kejadian, Ray menuturkan bahwa sang adik sempat terjebak sendirian di dalam gereja. Meski begitu, baik sang adik maupun keluarga besarnya dikabarkan selamat dari gempa berkekuatan 7,4 SR tersebut.

"Keluarga saya namanya Boris, dia yang mengabarkan kepada semua keluarga yang ada di luar Palu. Adik saya misalnya ada yang terkurung di gereja, dia tertinggal sendiri tapi yang lain sudah keluar. Ada yang suami istri sempat hilang nggak tahu ke mana. Mereka semua panik," kata Ray Sahetapy di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada Senin (1/10). "Tapi saya mendengar ketika mereka semuanya sudah ketemu dan berkumpul. Tinggal ngecek siapa lagi yang belum ditemukan, semuanya sudah kumpul dan Alhamdulillah selamat."

Ray juga merasakan perih yang begitu dalam kala mengetahui kampung halamannya diterjang gelombang tsunami. Segala kenangan masa kecilnya seketika melintas, namun Ray berharap saudara-saudara yang berada di Palu dapat segera bangkit dari keterpurukan.


"Nggak kuat saya. Apa ya? Tiba-tiba kenangan saya sejak kecil, teringat. Semua peristiwa di Donggala, Palu sampai kebayang semuanya jelas dari saya sampai SMP," tutur Ray. "Semuanya kan bahasa-Nya kehendak-Nya (Tuhan). Jadi harus kuat menghadapinya, karena kita enggak cuman di sini. Kita harus bangkit dari kejadian itu. Ini sudah terjadi, kita harus menjadi lebih baik."

"Perih," lanjut Ray. "Tapi ya gimana, sudah terjadi."

Menurut Ray, ia masih rutin menyambangi Palu setiap tahunnya untuk merayakan pertambahan umur. Sayangnya, keinginan Ray untuk segera mengunjungi Palu pasca gempa belum dapat terlaksana akibat kesibukannya di Jakarta.

"Saya pengin banget, cuman enggak bisa, enggak ada waktu karena ada kerjaan. Tapi kalau ada waktu, dalam waktu dekat ini saya mau ke sana. Karena saya ingin masyarakatnya diberikan motivasi dan berpikir untuk bangkit," ujar Ray. "Saya setiap ulang tahun ke sana. Saya ulang tahun 1 Januari. Ketika ke sana, saya selalu melihat garis khatulistiwa. Ada 5 titik khatulistiwa di Indonesia."

Saat ini, Ray hanya dapat berdoa untuk kebangkitan kampung halamannya. "Donggala punya karakter. Mudah-mudahan, suku besar di Palu kembali bangkit," tutup Ray.

(wk/nere)

You can share this post!

Related Posts