Dewi Persik menyebut jika Meldi sang ponakan memanfaatkan perseteruan ini untuk menaikan kepopularitasannya sebagai artis pendatang baru.
- Intan Novela Setya Monikasari
- Senin, 03 Desember 2018 - 16:55 WIB
WowKeren - Konflik Dewi Persik dan Rosa Meldianti alias Meldi sang keponakan berlanjut ke ranah hukum. Menggandeng pengacara Hotman Paris Hutapea, pedangdut yang akrab disapa Depe itu melaporkan Meldi ke Polda Metro Jaya pada 5 November lalu.
Depe melaporkan Meldi atas dugaan pencemaran nama baik. Dalam laporan itu, Meldi dianggap melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE juncto Pasal 45 ayat (3) UU ITE dan atau Pasal 310 KUHP dan atau Pasal 311 KUHP.
Pada Senin (3/12), Depe kembali datang ke Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta. Kunjungannya itu terkait pelaporan mantan istri Saiful Jamil ini untuk dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
"Cuma memenuhi panggilan terkait laporan kami yang soal ponakan itu, loh," kata Depe, dilansir Kumparan. Dalam kehadirannya itu, Depe dicecar 10 pertanyaan sebagai lanjutan proses permintaan keterangan sebelumnya di tanggal 19 November lalu.
Rekan Soimah ini, kala itu dicecar 13 pertanyaan terkait laporannya kepada Meldi. "Karena memang kemarin udah, ini tinggal yang sisanya, kurangnya," lanjut Depe.
Sayangnya, wanita berusia 32 tahun ini enggan berkomentar banyak mengenai hasil pemeriksaannya. "Ya, polisi nanti yang tahu prosesnya," tambahnya.
Namun tak menampik bagi pelantun "Bintang Pentas" ini, ia berharap perseteruannya dengan Meldi segera selesai. Depe mengaku lelah dan juga menginginkan hasil terbaik terkait permasalahannya itu.
"Udah capek juga aku," pungkas Depe. "Biar enggak banyak pansos (panjat sosial). Biar cepat kelar."
Perseteruan Depe dengan Meldi bermula dari saling sindir di sosial media. Depe menuding jika keponakannya itu iri hati lantaran tak dibantu berkarier di industri hiburan. Ada kabar yang menyebutkan juga jika Depe pilih kasih dengan keponakan lainnya.
Depe sendiri juga menilai Meldi tak memiliki sikap sopan santun. Ia menyebut Meldi seperti perumpamaan kacang lupa kulitnya lantaran sudah sering dibantu secara materi namun tak sadar diri.
(wk/inta)