Tinggi Gunung Anak Krakatau Menyusut 110 Meter, Bagaimana Potensi Tsunami?
Nasional

Besar kecilnya potensi tsunami yang terjadi akibat erupsi salah satunya dipengaruhi oleh volume Gunung Anak Krakatau.

WowKeren - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah berhasil menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya warga yang terdampak bencana tsunami belum lama ini. Tsunami yang terjadi Sabtu (22/12) pekan lalu disebabkan oleh erupsi Anak Krakatau.

Saat ini Anak Krakatau masih terus aktif melakukan erupsi. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu terjadinya tsunami susulan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selalu berupaya untuk mendapatkan citra Anak Krakatau untuk mengetahui kondisi gunung tersebut. Sebab, besarnya tsunami yang ditimbulkan salah satunya juga dipengaruhi oleh volume Anak Krakatau itu sendiri.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh PVMBG, tinggi Anak Krakatau saat ini hanya tersisa 110 meter dari permukaan air laut. Angka ini jauh lebih rendah dari tinggi semula yang mencapai 338 meter.


“Berdasarkan hasil analisis visual,” ungkap PVMBG lewat keterangan tertulis pada situs resminya, Jumat (28/12). “Sudah dikonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau yang tingginya semula 338 meter, sekarang tingginya tinggal 110 meter.”

Sedangkan volume Anak Krakatau saat ini hanya tersisa sekitar 40-70 juta meter kubik, menyusut dari sebelumnya yakni 150-180 juta meter kubik. Berkurangnya volume Anak Krakatau disebabkan danya rayapan tubuh gunung yang disertai oleh aktivitas erupsi secara terus-menerus.

“Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3. Sedangkan volume yang tersisa saat ini yaitu sekitar antara 40-70 juta m3,” tambah PVMBG. “Berkurangnya volume tubuh gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.

Dilihat dari kondisi volume Anak Krakatau saat ini, kemungkinan terjadinya tsunami sangat kecil. Meski begitu, potensi bahaya lontaran material berupa lava pijar masih tetap ada. Hal ini mengingat aktivitas erupsi Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga sekarang.

“Potensi bahaya lontaran material lava pijar masih ada,” terang PVMBG. “Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan atau sesar yang ada di Selat Sunda.”

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!