Mahfud tidak memungkiri jika dari dulu ada pihak-pihak yang ingin mengganti ideologi Pancasila. Namun, tak satupun dari mereka yang berhasil, baik yang melalui jalur radikal maupun politik.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 25 April 2019 - 15:05 WIB
WowKeren - Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mohammad Mahfud MD mengatakan bahwa selalu ada pihak-pihak yang terus berupaya untuk menggulingkan ideologi Pancasila dan menggantinya dengan yang baru. Meski demikian, tidak satupun dari upaya-upaya tersebut yang membuahkan hasil.
Adapun penyebabnya adalah karena Pancasila sudah diterima oleh masyarakat sebagai ideologi negara sehingga tidak bisa diganggu gugat. Hal tersebut dikemukakan oleh Mahfud ketika memberikan kuliah umum di Institut Teknologi Bandung.
Mahfud menilai bahwa selama ini Pancasila memang kerap diuji kebenarannya. Hal tersebut terbukti salah satunya dengan pecahnya pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI TII). Pemberontakan tersebut berhasil diredam dan Pancasila tetap kokoh berdiri sebagai dasar ideologi bangsa.
"Dulu yang menolak itu DI TII dan Permesta. Tapi, Pancasila selalu menang dalam ujian," kata Mahfud di Jawa Barat, Rabu (24/4). "Rakyat ingin negara tidak beralih ideologi. Kita hari ini sudah merumuskan bahwa Pancasila adalah dasar ideologi yang tepat dan cocok untuk Indonesia."
Ternyata upaya menggulingkan Pancasila masih berlanjut. Saat rejim di bawah kendali Soeharto tumbang, upaya mengganti Pancasila dengan ideologi khilafah kembali menggema. Bedanya, kali ini upaya tersebut dilakukan melalui jalur politik dengan keikutsertaan partai.
Pada Pemilu 1999, terdapat 48 partai politik yang menjadi peserta. Tiga belas persen di antaranya ingin agar ideologi Pancasila diganti. Dari 13 persen itu, hanya kurang dari sembilan persen yang benar-benar ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
"Tahun 98 Pak Harto jatuh dan ada usulan Pancasila diganti. Dari 48 partai yang ikut Pemilu tahun 1999, ada yang menghendaki Pancasila diganti hanya 13 persen, sisanya masih ingin Pancasila," mantan Ketua MK ini. "Tapi dari 13 persen ada yang hanya menunggangi, sehingga yang ingin Indonesia menjadi negara Islam enggak sampai 9 persen."
Mahfud menilai wajar jika ada pihak yang ingin mengganti ideologi negara. Namun, upaya itu harus dilakukan dengan menggunakan jalur konstitusional melalui Pemilu.
"Kalau mau (mengganti ideologi Pancasila) ya ikut Pemilu," tegas Mahfud. "Tidak usah pakai tindakan radikal, lewat pemberontak kalah, lewat jalur pemilu kalah, lalu mau dengan cara apalagi untuk mengganti Pancasila?"
(wk/zodi)