Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, mengaku tidak tahu siapa yang melakukan ancaman pembunuhan tersebut dan justru menyebut bahwa ada orang yang mengancam dirinya.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 28 Mei 2019 - 19:43 WIB
WowKeren - Polisi mengungkap bahwa 4 tokoh nasional menjadi target pembunuhan dalam kerusuhan Aksi 22 Mei. Kapolri Jenderal Tito Karnavia pun telah membeberkan siapa saja tokoh tersebut. Di antaranya terdapat nama Menko Polhukam Wiranto dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.
Menanggapi rencana pembunuhan 4 tokoh nasional tersebut, Wakil DPR RI, Fadli Zon pun angkat bicara. Fadli mengaku tidak tahu siapa yang melakukan ancaman pembunuhan tersebut. Ia juga mengaku bahwa ada orang yang mengancam dirinya.
"Saya enggak tahu siapa yang melakukan ancaman itu, siapa yang mau melakukan," tutur Fadli di Gedung DPR, Senayan, pada Selasa (28/5). "Kalau saya memang ada yang mengancam, ada yang mau membunuh saya kemarin. Tapi orangnya enggak diapa-apain tuh."
Fadli justru lebih menyoroti korban yang tewas di Aksi 21-22 Mei. Ia juga mengaku mendapat laporan orang hilang.
"Menurut saya kejadian puncak dari peristiwa tanggal 21-22 Mei adalah wafatnya atau meninggalnya 8 orang korban itu yang terverifikasi. Dan masih sejumlah orang berada di rumah sakit dan saya juga menerima laporan masih ada yang hilang," ungkap Fadli. "Dan ini menurut saya perlu diklarifikasi."
Selain empat tokoh nasional, kelompok yang menunggangi Aksi 22 Mei juga mengincar nyawa seorang pimpinan lembaga survei. Namun Kapolri enggan mengungkap nama pimpinan lembaga survei tersebut.
Di sisi lain, Mabes Polri telah menetapkan 6 tersangka terkait kepemilikan senjata api ilegal dan rencana pembunuhan tersebut. Dalam menjalankan aksinya, para tersangka dijanjikan honor dan juga jaminan hidup keluarga.
Polisi mengamankan sejumlah barang bukti, salah satunya adalah senjata api laras panjang lengkap dengan teleskop. Senjata mematikan ini dipergunakan untuk membunuh dari jarak jauh.
"Senjata api laras panjang ini, coba dilihat, ini ada teleskopnya," jelas Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal, saat memperlihatkan barang bukti tersebut pada Senin (27/5). "Jadi, diduga kuat memang ingin menghabisi dari jarak jauh. Walau rakitan, ini efeknya luar biasa."
(wk/Bert)