Moeldoko Blak-Blakan Bongkar Alasan Polisi 'Kecolongan' Soal Bom Bunuh Diri Kartasura
Nasional
Insiden Bom Bunuh Diri Kartasura

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, juga mengungkapkan bahwa aparat kepolisian semakin meningkatkan keamanan pasca insiden bom bunuh diri di Kartasura tersebut.

WowKeren - Insiden bom bunuh diri di Pos Polisi (Pospol) Tugu Kartasura, Sukoharjo, sempat mengejutkan publik. Insiden tersebut untungnya tidak memakan korban selain pelaku sendiri.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pun ikut angkat bicara mengenai insiden bom bunuh diri tersebut. Moeldoko membeberkan alasan mengapa polisi bisa "kecolongan" mendeteksi insiden yang terjadi pada Senin (3/6) kemarin itu.


Menurut Moeldoko, berdasarkan komunikasinya dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, insiden bom bunuh diri itu memang sulit untuk dideteksi. Pasalnya, pelaku bertindak sendiri dan tidak tergabung dalam jaringan manapun.

"Saya sudah komunikasi dengan Kapolri. Jadi ini tidak terdekteksi karena ini perseorangan," ungkap Moeldoko di Kompleks Istana Presiden Jakarta dilansir Kompas.com pada Kamis (6/6). "Dia tidak bermain dalam satu jaringan, sehingga memang sulit dideteksi."

Aparat sendiri disebut Moeldoko telah meningkatkan keamanan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Keamanan lantas semakin ditingkatkan pasca insiden bom bunuh diri di Kartasura tersebut.

"Secara nasional keamanan kita tingkatkan. Dengan ada kejadian itu, justru semakin meningkat keamanan," jelas Moeldoko. "Tadinya sih kita di dalam menghadapi Lebaran ini sudah cukup bagus. Setelah kejadian ini, kita semakin meningkatkan keamanan."

Sebelumnya, polisi sudah mengungkapkan bahwa pelaku berinisial RA itu telah merencanakan aksinya sejak 2018 lalu. RA membeli bahan peledak menggunakan uang yang dimintanya dari sang ibu. Selain itu, RA juga sempat menjalin komunikasi dengan pimpinan ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi, lewat media sosial Facebook.

"Pelaku sejak 2018 aktif komunikasi melalui medsos dan internet," terang Kapolda Jawa Tengah, Irjen (Pol) Rycko Amelza Dahniel, dilansir detikcom, Rabu (5/6). "Berkomunikasi dengan pimpinan ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi. 2018 akhir berbaiat kepada Baghdadi."

Selain itu, RA juga pernah mengajak ayah, ibu dan kakaknya untuk bergabung dengannya, tapi ditolak. Pelaku kemudian belajar membuat bahan peledak dengan membuat petasan dan diledakkan di lahan belakang rumah.

You can share this post!

Related Posts
Loading...