Hasil Survei SMRC Temukan Kualitas Demokrasi Bangsa Turun Setelah Kericuhan Aksi 22 Mei
Nasional

Survei dari SMRC juga menyatakan, masyarakat yang takut perlakukan sewenang-wenang oleh aparat hukum mencapai 38 persen. Lebih tinggi dibanding pada 2014 lalu yang hanya mencapai 24 persen.

WowKeren - Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan bahwa kualitas demokrasi di Indonesia sempat menurun setelah terjadi kerusuhan pada 21-22 Mei lalu. Hal tersebut berdasarkan survei SMRC yang berjudul Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional pasca Peristiwa 21-22 Mei.

"Pada April 2019 sebanyak 74 persen menyatakan puas terhadap demokrasi tapi setelah turun jadi 66 persen," ujar Direktur SMRC Sirojuddin Abbas di kantornya, Minggu (16/6), seperti yang dikutip dari CNN Indonesia.


Menurutnya terdapat beberapa hal yang menyebabkan penurunan. Terutama di aspek politis dan keamanan.

Berdasarkan hasil survei, 17 persen masyarakat takut bicara politik. Namun, kini sebanyak 43 persen masyarakat yang menjadi takut bicara politik. Kenaikan tajam itu terjadi usai kerusuhan 21-22 Mei terjadi.

Selain itu, setelah kejadian tersebut, responden yang mengaku takut ditangkap secara semena-mena oleh aparat sebesar 38 persen. Jumlah tersebut terhitung besar meski mereka yang tidak memiliki ketakutan serupa lebih mendominasi, yakni 53 persen.

Survei dari SMRC juga menyatakan, masyarakat yang takut perlakukan sewenang-wenang oleh aparat hukum mencapai 38 persen. Lebih tinggi dibanding pada 2014 lalu yang hanya mencapai 24 persen.

Tak hanya itu, berdasarkan survei yang sama, ada peningkatan tentang ketakutan masyarakat dalam menjalankan ajaran agama sebanyak 25 persen. Padahal, pada 2014 lalu, masyarakat yang takut sebanyak 7 persen.

Meski begitu, kata Sirojuddin, mayoritas masyarakat masih tetap menganggap Indonesia saat ini demokratis. Secara garis besar, sebagian besar publik menilai demokrasi Indonesia masih berjalan ke arah yang benar.

(wk/nris)

You can share this post!

Related Posts