Jokowi menyoroti perkara kesehatan dan kualitas pendidikan untuk memajukan SDM Indonesia. Diduga dua hal ini akan menjadi prioritas Jokowi di periode kedua pemerintahannya.
- Elvariza Opita
- Jumat, 09 Agustus 2019 - 16:40 WIB
WowKeren - Gebrakan Presiden Joko Widodo di periode kedua era pemerintahannya memang dinantikan banyak pihak. Menanggapi antusiasme masyarakat ini, Jokowi pun kerap memberikan bocoran soal prioritas pemerintahannya ke depan.
Salah satunya soal peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Seperti terlihat dari unggahannya di Instagram (@jokowi) dan Twitter (@jokowi), mantan Wali Kota Solo ini menilai Indonesia harus mulai "melirik" peningkatan kualitas SDM ketimbang terus bergantung pada kekayaan alam.
"Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai. Kejayaan komoditas sumber daya alam juga sudah hampir selesai," tulisnya sebagai caption postingannya. "Untuk ke depan, percayalah, kita harus membangun pondasi sumber daya manusia yang berkualitas, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi."
Jokowi pun tak keberatan membocorkan langkah-langkah strategis yang akan dilakukan demi mencapai tujuannya itu. Menurutnya, kualitas SDM itu harus mulai dibangun sejak di dalam kandungan.
"Dan kualitas SDM itu harus dibangun, sejak di dalam kandungan. Oleh sebab itu, tidak boleh ada lagi yang namanya stunting pada anak," katanya. "Kesehatan ibu dan anak menjadi kunci, terutama pada usia emas, sampai tujuh atau delapan tahun."
Tak hanya itu, nantinya pemerintah juga akan fokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan tak hanya sekadar bertujuan mencetak generasi yang unggul di bidang akademik tetapi juga yang Pancasilais dan toleran.
"Lalu, kita tingkatkan kualitas pendidikan dasar sampai perguruan tinggi," tuturnya. "Bukan hanya untuk membuat generasi muda menjadi pintar dan mampu berkarya, tetapi juga jangan lupa, mencetak generasi Pancasilais, yang toleran, yang kokoh bergotong royong."
Unggahan ini seakan menjadi "jawaban" atas polemik rencana Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mendatangkan rektor asing. Diketahui wacana Nasir itu masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Kendati rencana ini banyak ditentang, Nasir tetap percaya diri untuk merealisasikan wacananya itu. Bahkan ia sudah menarget rektor asing akan siap didatangkan tahun 2020 mendatang.
Oleh karena itu, saat ini, pihaknya terus bekerja keras menyelesaikan beberapa regulasi untuk menunjang pelaksanaan kebijakan itu. Pihak Kemenristekdikti pun masih memetakan PTN mana yang bisa mulai mempekerjakan rektor asing pada tahun depan.
(wk/elva)