Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo, mengungkapkan terdapat total 6 aparat yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 29 Agustus 2019 - 09:11 WIB
WowKeren - Kerusuhan kembali pecah di Bumi Cenderawasih sebagai buntut insiden rasisme terhadap mahasiswa Papua. Yang terbaru, kerusuhan dikabarkan pecah di Deiyai, Papua, pada Rabu (28/8).
Sebelumnya, pihak Istana mengabarkan bahwa kerusuhan tersebut membuat seorang anggota TNI tewas dan 2 anggota kepolisian mengalami luka.luka. Polri pun lantas mengungkapkan bahwa terdapat tambahan korban dari pihak aparat.
"Akibat kejadian tersebut 6 anggota TNI-Polri menjadi korban," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo, dilansir Kompas.com pada Kamis (29/8). "TNI 2 orang dan Polri 4 orang."
Anggota TNI yang tewas bernama Serda Rikson dan jenazahnya telah dievakuasi ke Nabire via jalur darat. Sedangkan 5 aparat lainnya mengalami luka akibat terkena anak panah. Kelima korban luka-luka tersebut telah dilarikan ke Rumah Sakit Enarotali untuk mendapat perawatan.
"1 personel TNI meninggal dunia, 1 personel TNI terkena panah," ungkap Dedi. "1 personel Brimob kena panah, 3 personel Samapta Polres Paniai kena panah."
Sementara itu, dari pihak sipil terdapat 2 warga yang meninggal dunia. Satu meninggal akibat luka tembak di bagian kaki, sedangkan satunya lagi tewas akibat terkena anak panah di bagian perut.
Sebelumnya, media asing Reuters mengabarkan bahwa 6 warga sipil tertembak di kerusuhan yang terjadi dan puluhan orang terluka. Pernyataan ini berdasarkan keterangan dari John Pakage, salah seorang warga Deiyai, lewat sambungan telepon.
Pihak Istana lewat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko[u memastikan informasi tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Ini saya cek tadi ke lapangan, 'Benar enggak, Pangdam, ada yang tertembak 6 orang?' Justru yang meninggal dari TNI satu orang. Luka dari kepolisian dua orang. Tapi beritanya sudah sampai Reuters, enam masyarakat sipil diberondong oleh aparat keamanan," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (28/8). "
Diketahui, kerusuhan tersebut berawal dari aksi demonstrasi di depan Kantor Kabupaten Deiyai. Demonstrasi digelar oleh 150 massa yang menuntut Bupati Deiyai untuk ikut menandatangani surat pernyataan keinginan referendum.
Setelah menyampaikan tuntutannya, sempat ada negosiasi antara aparat kepolisian dengan massa. Namun kala negosiasi berlangsung, ribuan massa tiba-tiba datang dari berbagai penjuru dan menyerang aparat menggunakan senjata tajam dan panah.
(wk/Bert)