Veronica Koman Akhirnya Buka Suara Soal 'Tuduhan' Polda Jatim
Nasional
Demo Rasisme Papua

Lewat unggahan di akun Facebook pribadinya pada Sabtu (14/9), Veronica Koman menyebut apa yang dialaminya kini adalah kasus kriminalisasi dan intimidasi.

WowKeren - Kepolisian Daerah Jawa Timur kini tengah memburu tersangka provokasi asrama mahasiswa Papua, Veronica Koman. Diketahui, Veronica tengah berada di luar negeri dan selama ini tak pernah mengomentari status tersangka terhadap dirinya.

Namun, Veronica akhirnya buka suara lewat unggahan di akun Facebook pribadinya. Veronica menyebut bahwa dirinya selama ini memang sengaja diam menanggapi "tuduhan" yang diberi polisi. Ia juga menyebut apa yang dialaminya kini adalah kasus kriminalisasi dan intimidasi.


Veronica juga dengan tegas menolak upaya pembunuhan karakternya sebagai pengacara resmi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Ia menyebut pihak kepolisian menyalahgunakan wewenangnya.

"Kepolisian telah menyalahgunakan wewenangnya dan sudah sangat berlebihan dalam upayanya mengkriminalisasi saya," tulis Veronica pada Sabtu (14/9). "Baik dalam caranya maupun dalam melebih-lebihkan fakta yang ada."

Selain itu, Veronica juga menyinggung tudingan polisi terkait beasiswa yang diterimanya. Polda Jatim sebelumnya menuding Veronica mendapat beasiswa S2 di luar negeri namun tak pernah melaporkan pertanggungjawabannya.

"Bahwa betul saya terlambat dalam memberikan laporan studi kepada institusi beasiswa," lanjut Veronica. "Tetapi urusan itu telah selesai per 3 Juni 2019 ketika universitas tempat saya studi mengirimkan seluruh laporan studi saya kepada institusi beasiswa saya."

Sebelumnya, Polda Jatim juga sempat menyebut bahwa ada hal yang mencurigakan dari transaksi rekening milik Veronica, yakni penarikan dana di beberapa wilayah konflik seperti Surabaya dan Papua dengan nominal yang cukup besar. Menanggapi hal tersebut, Veronica pun memberi klarifikasi.

"Bahwa tentu betul saya menarik uang di Papua ketika saya berkunjung ke Papua, dengan nominal yang sewajarnya untuk biaya hidup sehari-hari," jelas Veronica. "Bahwa saya hanya pernah ke Surabaya sekali dalam seumur hidup saya, selama 4 hari, yaitu ketika pendampingan aksi 1 Desember 2018 bagi klien saya AMP. Saya tidak ingat bila pernah menarik uang di Surabaya. Apabila saya sempat pun ketika itu, saya yakin maksimal hanya sejumlah batas sekali penarikan ATM untuk biaya makan dan transportasi sendiri."

Veronica juga menilai bahwa waktu dan energi yang dialokasikan untuk menyebarkan propaganda negatif justru lebih besar dibanding untuk mengusut pelanggaran HAM di Papua. Ia merasa bahwa aparat menyerangnya lantaran tak mampu atau tak mau mengusut pelanggaran HAM yang ada.

"Papua adalah salah satu wilayah yang paling ditutup di dunia ini," pungkas Veronica. "Dan kembali saya tegaskan, kriminalisasi terhadap saya adalah rangkaian dari upaya negara untuk terus membungkam informasi yang keluar dari Papua."

You can share this post!

Related Posts
Loading...