Demo mahasiswa pada Selasa (24/9) kemarin berujung pada kerusuhan. Polda Metro Jaya mencatat sebanyak 265 mahasiswa dan 39 anggota polisi menjadi korban luka dalam peristiwa tersebut.
- Elvariza Opita
- Rabu, 25 September 2019 - 13:14 WIB
WowKeren - Aksi massa yang digelar mahasiswa di depan Gedung Parlemen, Senayan, pada Selasa (24/9) kemarin menyisakan sejumlah "luka". Pasalnya aksi tersebut diakhiri dengan kerusuhan. Bahkan seorang mahasiswa peserta aksi dikabarkan sampai harus dirawat di ICU RS Pelni, Slipi, lantaran terluka parah.
Menanggapi hal tersebut, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono pun buka suara. Dalam konferensi persnya yang digelar pada Rabu (25/9), Gatot menyatakan aksi yang berlangsung sejak pagi itu awalnya berlangsung damai.
"Pada pagi pukul 08.00 pagi sudah ada (massa), kemudian sampai jam 02.00 siang mereka mulai masuk ruas jalan tol," jelas Gatot di Polda Metro Jaya, Jakarta. "Tapi situasi masih aman dan kondusif."
Hingga akhirnya menjelang pukul 16.00 WIB, perwakilan mahasiswa meminta bertemu dengan pimpinan DPR. Dengan mediasi dari polisi, DPR pun bersedia menerima perwakilan mahasiswa.
"Dari pihak kepolisian berkoordinasi dengan Pak Sekjen," kata Gatot, dilansir dari Detik News. "Pak Sekjen menyampaikan bahwa Ketua DPR bersama pimpinan lainnya siap menerima."
"Tetapi dari adik-adik mahasiswa menghendaki Ketua DPR dan pimpinannya untuk datang ke tengah-tengah adik-adik mahasiswa yang sedang laksanakan unjuk rasa," imbuh Gatot. "Tentunya ini tidak bisa karena melihat berbagai faktor tentunya."
Penolakan para pimpinan DPR ke tengah-tengah massa itulah yang memancing emosi demonstran. Mereka pun mengancam agar pimpinan DPR bersedia turun.
"Setelah itu adik-adik mahasiswa menyampaikan," tuturnya. "(Kalau) sampai pukul 16.00 WIB, apabila pimpinan DPR nggak ada di tengah-tengah mereka, maka mereka tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi."
Massa lantas menyanyikan yel-yel sambil berusaha merangsek masuk ke dalam kawasan Gedung Parlemen. Mereka mendorong petugas dan melempari dengan berbagai benda, mulai dari batu hingga botol. Tujuan aksi ini, jelas Gatot, agar massa bisa menduduki DPR.
Massa yang semakin anarkis membuat polisi mengambil langkah tegas. Penembakan air dengan water cannon yang ditempuh rupanya tak menyurutkan langkah massa. Alhasil polisi mengambil langkah selanjutnya, yakni menembakkan gas air mata.
"Yang pertama kita tebak air (water cannon) untuk mundur, tetapi mereka nggak mau mundur," papar Gatot. "Dia tetap maju. Bahkan semakin rusak pagar DPR."
"Ada tiga sisi (pagar) dirusak, (bahkan) yang dua itu betul-betul jebol pagarnya," lanjutnya. "Sehingga, atas nama undang-undang, polisi melakukan tindakan tegas menembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa supaya adik-adik mahasiswa itu mundur."
(wk/elva)