Kelompok militan ISIS mengakui dari medianya jika pimpinannya telah terbunuh dalam serangan militer AS pekan lalu. Dalam pernyataan tersebut ISIS juga mengungkap soal pemimpin barunya hingga mengancam akan membalas dendam AS.
- Nidya Putri
- Jumat, 01 November 2019 - 16:01 WIB
WowKeren - Kelompok militan ISIS akhirnya buka suara setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan jika pasukannya telah membunuh pemimpinnya Abu Bakar al-Baghdadi dalam serangan di kawasan utara Suriah pekan lalu. Dalam medianya mereka mengiyakan pernyataan presiden AS tersebut.
Mereka bahkan telah menetapkan pemimpin yang baru yaitu Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi dan juga mengancam akan membalas dendam atas kematian Baghdadi. Tak sampai di situ, ISIS juga mengejek Presiden AS Donald Trump.
Ancaman tersebut diungkapkan oleh Abu Hamza Qurashi yang merupakan juru bicara baru ISIS. "Waspadalah pada balas dendam terhadap negara kalian dan saudara-saudara kalian yang kafir dan murtad," kata Qurashi melalui media Al-Furqan Foundation dilansir Reuters, Jumat (1/10).
Lebih lanjut, ia mengatakan jika pemimpin ISIS yang baru akan membuat AS merasakan kegetiran. Ia juga mengingatkan jika simpatisan ISIS ini masih banyak tersebar di Erop dan juga AS.
Tak sampai di situ, Qurashi juga menghina Trump dan mengatakan bahwa rakyat Amerika dipimpin oleh "orang tua yang bodoh" dan plin plan. "Dan kau (Trump) tidak bisa melihat bahwa kau telah menjadi lelucon. Nasib kalian dikendalikan oleh orang tua yang bodoh, yang pergi tidur dengan sebuah pendapat dan bangun dengan pendapat yang lain?" sambungnya.
Sekedar informasi latar belakang pemimpin baru ISIS al-Qurayshi masih belum diketahui. Namun yang diketahui hanyalah sebagai pejuang yang dikenal sebagai 'emir of war'. Bahkan sejumlah pakar pun masih belum mengetahui sosok pemimpin baru ISIS ini.
Sebelumnya, pihak AS telah menduga jika ISIS akan melakukan aksi balas dendam atas kematian Baghdadi. Hal ini disampaikan oleh Marinir Kennet McKenzie yang merupakan Komandan Komando Pusat AS.
"Kami menduga mereka akan melakukan semacam serangan balasan," ujar Kennet McKenzie. "Dan kami telah siap untuk menghadapinya."
(wk/nidy)