Di tengah wabah Corona yang menyerang Tiongkok, seorang remaja difabel harus meregang nyawa karena keluarganya dikarantina terduga virus yang memiliki nama 2019-nCoV ini.
- Nidya Putri
- Jumat, 31 Januari 2020 - 20:51 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona yang terjadi di Wuhan, Tiongkok hingga saat ini masih menjadi sorotan dunia. Pasalnya, virus yang memiliki nama 2019-nCoV ini telah menelan ratusan korban jiwa.
Di tengah wabah mengerikan tersebut, rupanya menyimpan sebuah kisah pilu. Seorang remaja penyandang disabilitas di Provinsi Hubei, Tiongkok akhirnya meninggal dunia usai ditinggal sendirian di rumah karena keluarganya diduga terinfeksi Corona dan dikarantina.
Dikutip dari Beijing Youth Daily, remaja itu bernama Yan Cheng (17) yang menderita cerebral palsy meningggal setelah ditinggal sendirian di rumahnya selama 6 hari. Ayah remaja malang itu Yan Xiaowen (49) dan saudara laki-lakinya yang juga autis berusia 11 tahun baru saja melakukan perjalanan dari Wuhan di kota Huahe, kabupaten Hongan - sekitar 150 km (93 mil) dari Cina tengah pada 17 Januari lalu.
Ayah dan adik Cheng melakukan perjalanan tersebut untuk merayakan Tahun Baru Imlek ke tempat leluhur mereka. Namun setelah melakukan perjalanan, Yan Xiaowen mengalami demam tiga hari kemudian. Akibatnya ayah dan saudaranya dikarantina pihak berwenang di fasilitas perawatan pada hari Jumat, meninggalkan Cheng di rumah tanpa perawatan dan makanan.
Ibu Cheng sendiri telah meninggal akibat bunuh diri sekitar setahun usai adik laki-lakinya lahir. Sayangnya, tak ada pernyataan resmi tentang penyebab maupun keadaan remaja tersebut.
Cheng yang tak mempercayai pejabat setempat terkait kesejahteraan putranya, akhirnya meminta bantuan melalui Weibo (media sosial milik Tiongkok) pada Selasa. “Saya punya dua putra cacat. Putra sulungku Yan Cheng menderita cerebral palsy. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia tidak bisa berbicara atau menjaga dirinya sendiri," tulis Yan pada postingannya yang disertai foto putranya. "Dia sudah berada di rumah sendirian selama enam hari, tanpa ada yang memandikannya atau mengganti pakaiannya dan tidak makan atau minum."
Mengutip SCMP, Yan akhirnya mengetahui jika putranya diberi makan dua kali antara hari Jumat dan Selasa. Tapi, menurut laporan Damihexiaomi, remaja itu sudah lebih dulu meninggal Selasa sore.
Laporan tersebut juga mengatakan bibi bocah itu awalnya memberinya makan tiga kali sehari namun kesehatannya juga ikut memburuk hingga ia tak bisa mengunjungi lebih sering. Ia terakhir mengunjungi Cheng pada Selasa, tapi kondisi Cheng sudah memburuk dengan cepat saat itu.
“Dia berbaring di kursi santai tapi kepalanya digantung. Wajah dan mulutnya kotor, begitu pula selimutnya," ujarnya. "Saya mencuci muka dan mulutnya dengan air mendidih, mengganti pakaian dalamnya, dan memberinya air dan setengah cangkir beras, tetapi dia tidak bisa makan lagi."
Sementara itu, pemerintah Hongan telah mengadakan penyelidikan atas kematian remaja itu. Hal ini diungkapkan salah seorang pegawai kota Huahe. "Sekarang, pengawasan sangat ketat, tidak mungkin kita bisa meninggalkan seorang anak laki-laki dengan cerebral palsy di rumah tanpa ada yang merawatnya," katanya.
"Kami, tentu saja, telah melakukan pekerjaan kami, tetapi faktanya dia telah meninggal, otoritas yang lebih tinggi sedang menyelidiki dan mereka akan memiliki tanggapan yang adil," lanjutnya.
(wk/nidy)