Ratusan juta belalang telah menyerbu Afrika hingga mengganggu aktivitas warga sekitar, fenomena tersebut disebut menjadi yang terburuk sepanjang sejarah Benua Hitam tersebut.
- Ruth Meliana
- Selasa, 04 Februari 2020 - 12:46 WIB
WowKeren - Ratusan juta belalang telah menyerbu sebuah wilayah di Kenya, Afrika. Fenomena invansi belalang ini telah membuat udara dipenuhi dengan serangga sehingga sangat mengganggu aktivitas warga sekitar yang berada di sana.
Bahkan, invansi belalang tersebut disebutkan menjadi yang terburuk dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Pasalnya, saking banyaknya belalang yang berada di udara, jarak pandang kota tersebut menjadi sangat terbatas.
Fenomena invansi belalang tersebut memang disebutkan tidak berbahaya. Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan jika situasi tersebut dapat menjadi sangat parah hingga berpotensi mengancam sektor pertanian dan mata pencaharian warga sekitar.
FAO menyebutkan jika invansi belalang berpotensi menghancurkan tanaman dan rumput. Bahkan, data mereka telah mengklaim jika fenomena tersebut telah menghancurkan tanaman pangan yang cukup untuk memberi makan 35.000 orang dalam satu hari. Hal tersebut diperparah dengan fakta jika Afrika baru saja dilanda badai El Nino yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.
"Masyarakat Afrika Timur telah dilanda kekeringan yang berkepanjangan, mengurangi lahan yang bisa ditanami makanan (padi atau gandum) dan mengancam mata pencaharian mereka," ujar Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, seperti dikutip dari laman resmi <i>FAO</i>. "Kita perlu membantu mereka untuk bangkit, setelah hama belalang berakhir."
Invansi belalang ini dimulai pada Juni 2019 dari Ethiopia Timur dan Somalia Utara yang kemudian menyebar dengan cepat. Suhu hangat dan hujan lebat dipicu menjadi lingkungan sempurna bagi belalang untuk berkembang biak sehingga jumlahnya meningkat dengan begitu pesat.
Para peneliti juga memprediksi jika suhu tersebut masih terjadi, maka gerombolan belalang akan semakin membeludak dan menyebar ke negara-negara lain di Afrika Timur. Pasalnya, belalang bisa melakukan perjalanan sejauh 150 kilometer sehingga jumlahnya diprediksi akan bertambah hingga 500 kali lipat.
"Kecepatan penyebaran hama dan jumlah mereka yang jauh tidak biasa, membuat pemerintah daerah dan otoritas setempat harus mengambil tindakan untuk mengurangi hama ini," kata Qu Dongyu. "Mengingat skala yang cukup besar, kontrol udara adalah satu-satunya cara efektif untuk mengurangi jumlah belalang."
PBB saat ini telah berupaya mengurangi hama belalang ini dengan melakukan penyemprotan pestisida. Mereka telah menggelontorkan dana sebesar 10 juta dolar AS atau setara dengan Rp 1,37 miliar. Saat ini, PBB disebutkan masih mencari dana sekitar 70 juta dolar atau setara Rp 962,3 miliar dari para pendonor internasional guna mengatasi masalah ini.
(wk/lian)