Ungkap Permohonan Maaf, Tersangka Tragedi Susur Sungai Justru Mendadak 'Lepas Tangan'
Nasional
Tragedi Susur Sungai Sleman

Polres Sleman menetapkan sosok berinisial IYA, R, dan DDS sebagai tersangka dalam insiden meninggalnya 10 siswa SMPN 1 Turi akibat terseret arus saat melakukan kegiatan susur sungai.

WowKeren - Polres Sleman, DI Yogyakarta, telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam tragedi susur sungai berujung maut pada Jumat (21/2) pekan lalu. Sebagai pengingat, sebanyak 10 dari 249 siswa peserta susur sungai ditemukan meninggal pasca terseret kencangnya arus yang ada.

Ketiganya merupakan pembina Pramuka Gugus Depan 15045 dan 15046 SMPN 1 Turi Sleman. Satu tersangka ditetapkan segera setelah insiden terjadi, sedangkan 2 lainnya baru dijerat pasca gelar perkara pada Senin (24/2) siang kemarin.


Ketiganya pun dimunculkan di hadapan publik lewat konferensi pers pada Selasa (25/2). Dalam kesempatan itu, seorang tersangka berinisial IYA meminta maaf kepada pihak sekolah dan korban. Ia pun mengaku sudah bertindak lalai dalam insiden tersebut.

"Atas kelalaian kami, terjadi seperti ini. Kami sangat menyesal dan memohon maaf kepada keluarga korban, terutama korban meninggal dunia," ujar IYA dengan nada pasrah. "Semua ini sudah menjadi risiko kami. Sehingga, apapun yang menjadi keputusan (hukum), kami terima."

IYA memang mengaku lalai atas tragedi yang terjadi, namun ia memastikan sudah memeriksa kondisi di tempat kejadian perkara dan tampaknya baik-baik saja. Oleh karena itu ia berharap keluarga korban berkenan memaafkan dirinya dan 2 tersangka lain.

"Cuaca belum hujan, saya ikuti, saya cek sungai di atas kelihatan juga tidak deras airnya. Saya kembali ke titik start, saya cek airnya juga nggak masalah," ungkapnya.

"Kemudian di situ ada teman yang saya yang biasa urusi susur sungai di Sempor. Sehingga saya yakin aja tidak akan terjadi apa-apa," imbuh IYA.

Namun sikap berbeda justru ditunjukkan oleh tersangka R. Ia mengaku hanya mengikuti arahan IYA selaku inisiator kegiatan. Padahal, imbuh R, ia sendiri tidak terlalu sreg dengan rencana tersebut karena cuaca kala itu.

"Pada saat itu, memang semuanya itu rasanya tidak bisa berkata apa-apa. Jadi setelah dibariskan Kak Yopi (IYA), saya hanya ngikut," tuturnya, dilansir dari Suara Jogja.

"Saya merasa kurang senang memang. Tapi akhirnya pada waktu itu saya menggantikan piket," sambungnya. "Di samping itu, tiap nanti anak selesai susur sungai itu ada pencatatan. Saya menunggu di sekolah, di samping menunggui barang anak-anak."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts