Ilmuwan Ungkap Virus Corona Sudah Bermutasi, Tipe Ini Jauh Lebih Ganas
Dunia

Para peneliti menyebut virus Corona kini sudah bermutasi menjadi dua tipe, dimana salah satunya patut diwaspadai karena jauh lebih ganas. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Wabah virus Corona masih menjadi pekerjaan besar bagi para peneliti dan ahli medis di berbagai penjuru dunia. Pasalnya hingga nyaris tiga bulan sejak pertama kali mencuat ke publik, wabah ini belum juga menemukan "lawan yang sepadan".

Bahkan wabah ini seolah makin tak terbendung karena sudah menginfeksi hampir 100 ribu orang. Tak berhenti sampai di situ, kini ilmuwan pun ikut mengungkapkan fakta baru yang cukup mengerikan soal virus yang bernama resmi SARS-Cov-2 itu.

Menurut para peneliti dari School of Life Sciences Universitas Peking dan Institue Pasteur of Shanghai, virus Corona kini sudah bermutasi menjadi dua jenis. Menurut mereka ada dua tipe atau strain virus Corona saat ini, yakni tipe L dan S.

Mengerikannya, mereka mengungkap salah satu strain merupakan tipe yang sangat berbahaya dan patut diwaspadai. Bahkan strain itu merupakan penyebab 70 persen kasus Corona saat ini.


"'Tipe S' adalah tipe yang lebih dulu ada dan tampaknya lebih ringan dan tak terlalu menular. Sedangkan 'Tipe L' adalah tipe baru yang baru muncul kemudian. Virus ini menyebar dengan cepat," demikian kutipan penjelasan para peneliti lewat karya ilmiah yang diterbitkan dalam National Science Review, jurnal dari Chinese Academy of Sciences.

Beruntungnya, virus Corona Tipe S yang lebih "jinak" kini dikabarkan mulai mengambil alih. Hal ini mungkin disebabkan karena tindakan karantina kesehatan masyarakat yang agresif di Tiongkok telah menghentikan penyakit yang lebih ganas di negara tersebut.

Perihal mutasi ini pun ternyata memang sudah terjadi. Dilansir dari Telegraph, rupanya ada seorang pria di Amerika Serikat yang dinyatakan positif terinfeksi Corona pada 21 Januari 2020 lalu. Belakangan terungkap bahwa pria tersebut terinfeksi kedua jenis virus.

Keberadaan mutasi ini tentu membuat peneliti harus ekstra berhati-hati, sebab dikhawatirkan vaksin yang dikembangkan justru tidak bisa melawan virus tersebut. Stephen Griffin dari Institut Penelitian Medis Leeds menekankan hal tersebut, meski ia meyakini variasi hasil mutasi yang ada "cukup terbatas" dan kemungkinan tak akan menjadi rintangan besar.

"Biasanya ketika virus RNA pertama kali melintasi spesies ke manusia, mereka tidak terlalu beradaptasi dengan host (inang) baru mereka, (yaitu) kita," ujar Griffin. "Jadi mereka biasanya mengalami beberapa perubahan yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dan menjadi lebih mampu untuk mereplikasi di dalam, dan menyebar dari manusia ke manusia."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait