Wabah Corona Bikin Kenaikan Tarif Ojol 'Disenggol' Lagi, Kenapa?
Nasional
Wabah Virus Corona

Mulai hari ini (16/3) kenaikan tarif ojek online untuk kawasan Jabodetabek resmi diberlakukan. Pada saat yang bersamaan, rute dan jam operasional transportasi massal justru dipangkas karena wabah Corona.

WowKeren - Pekan lalu pemerintah lewat Kementerian Perhubungan menetapkan penyesuaian tarif baru untuk ojek daring. Kenaikan tarif ini pun diberlakukan mulai Senin (16/3) hari ini.

Dilansir dari Detik Finance, pemerintah sepakat menaikkan tarif batas bawah ojol sebesar Rp250 per kilometer. Sedangkan tarif batas atasnya juga mengalami kenaikan mencapai Rp150 per kilometer.

Kenaikan tarif ojol ini pun digadang-gadang sesuai keinginan para mitra demi meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun yang tak disangka, kenaikan tarif ini harus bersamaan dengan pemangkasan sejumlah rute dan jam operasional moda transportasi publik lain di DKI Jakarta menyusul meningkatnya wabah virus Corona.

Sebagai pengingat, Gubernur Anies Baswedan memutuskan untuk mengeluarkan sejumlah kebijakan menyusul meluasnya wabah penyakit COVID-19. Salah satunya dengan memangkas rute dan jam operasional moda transportasi massal seperti TransJakarta, MRT, dan LRT dengan dalih mengurangi potensi penularan virus di dalamnya.

Sebagai konsekuensi, banyak pengguna transportasi umum yang beralih menggunakan ojol demi bisa mencapai tempat kerjanya. Padahal di sisi lain, secara bersamaan, tarif ojol pun telah dinaikkan.


Situasi inilah yang lantas disoroti oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang. Menurutnya pemerintah seharusnya mempertimbangkan kembali kenaikan tarif transportasi berbasis aplikasi ini.

"Ini sesuai yang harus dipertimbangkan sama pemerintah juga," ujar Sarman di Jakarta, Senin (16/3). "Karena dengan adanya virus Corona ini."

Menurut Sarman, saat ini pun sudah terjadi peningkatan penggunaan transportasi daring karena warga cenderung berusaha menghindari keramaian. Sarman berharap situasi itu membuat pemerintah berkenan menunda kenaikan tarif. Namun demikian Sarman tak bisa banyak berkomentar karena kenaikan tarif adalah permintaan dari para mitra.

"Kemarin kita lihat angka kenaikan daripada transportasi online ini cukup tinggi," terang Sarman, dilansir dari Merdeka. "Tapi itu (kenaikan tarif) sesuatu yang harus kita terima karena itu desakan juga dari mereka untuk dinaikkan."

Di sisi lain, kenaikan iuran ini hanya terjadi di kawasan Jabodetabek. Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiyadi menyatakan kenaikan tarif disesuaikan dengan kondisi perekonomian Jabodetabek yang begitu dinamis.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts