Corona Bisa Bertahan di Suhu Tertentu, Pakar Sebut RI Aman Dari Sebaran Virus Lewat Udara
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pakar Virus (Virolog) Moh Indro Cahyono membenarkan jika virus corona mampu bertahan di udara selama tiga jam namun kondisi temperatur di Indonesia tidak seusai dengan konteks itu.

WowKeren - Masyarakat sempat ramai membahas kondisi virus corona atau COVID-19 yang disebut-sebut bisa bertahan di udara selama 3 jam. Tak ayal kekhawatiran pun muncul terkait hal ini.

Meski demikian, hal itu kurang sesuai dengan konteks di Indonesia. Pakar Virus (Virolog) Moh Indro Cahyono membenarkan jika virus memang bisa bertahan di udara selama tiga jam. Namun hal itu juga tergantung dari kondisi tertentu yakni suhu udara.


Dikatakannya, virus corona bisa bertahan jika suhu udara rata-rata hanya berkisar antara 10 hingga 15 derajat Celcius. Sedangkan di indonesia, suhunya jauh lebih tinggi dari itu.

"Virus itu bisa bertahan di udara selama 3 jam jika berada dalam suhu yang berkisar antara 10-15 derajat celsius," kata Indro dilansir Suara, Rabu (25/3). "Sementara Indonesia memiliki suhu rata-rata 26 derajat celsius."

Dengan kata lain, untuk kondisi suhu di Indonesia yang seperti itu, virus corona tidak akan bisa bertahan lama di udara. Meski demikian, bukan berarti Indonesia sepenuhnya aman dari penyebaran virus corona lewat udara.

Indra menyebut ada tempat yang memungkinkan virus itu bisa bertahan lebih lama di udara yakni di rumah sakit. Sebab, ruangan yang serba tertutup ditambah dengan semburan berkali-kali membuat virus ini semakin bertambah jumlahnya.

"Sekarang kalau balik ke definisinya tadi, virus bertahan di udara kalau ruang tertutup, dua semburannya berkali-kali, dan ketiga konsentrasi dalam jumlah banyak," jelas Indro. "Di lokasi mana sebaran paling banyak? Ya di rumah sakit."

Tak ayal jika hal ini menyebabkan dokter maupun petugas medis yang menangani pasien corona lebih rentan terpapar virus ini. Untuk itu, Indro mengatakan jika dalam bertugas para tenaga medis ini harus dilengkapi dengan APD yang memadai dan memenuhi standar kesehatan.

Lebih jauh, ia mengimbau agar masyarakat tak mudah panik dan berbondong-bondong melakukan pemeriksaan. "Jadi risiko paling tinggi di mana? Ya di rumah sakit, kalau tidak ingin mendapatkan risiko gimana? Ya jangan ke rumah sakit kalau cuma demam biasa," ungkap dia.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts