Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah menetapkan status darurat nasional corona pada Selasa (7/4) lalu. Meski begitu ia menegaskan bahwa Negara Matahari Terbit itu tidak akan mengambil tindakan lockdown.
- Nidya Putri
- Kamis, 09 April 2020 - 08:51 WIB
WowKeren - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Selasa (7/4) lalu menetapkan status darurat nasional di negaranya terkait wabah virus corona (Covid-19). Status ini akan berlangsung selama 1 bulan di Tokyo dan 6 perfektur lainnya dengan kasus positif corona terbanyak di Jepang.
Dalam konferensi persnya, Abe meminta agar warga agar menahan diri untuk tidak keluar dari rumah apabila tak ada keperluan mendesak. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya tak akan mengambil tindakan lockdown seperti yang dilakukan negara lain.
Hal ini dikarenakan Abe ingin mempertahankan aktivitas ekonomi "Sangat penting untuk mengubah perilaku warga," kata Abe. “Jika kita semua berusaha dan mencoba mengurangi kontak dari orang ke orang hingga 70 persen lebih bagus 80 persen, peningkatan infeksi hanya akan terjadi pada 2 minggu ke depan dan kemudian terjadi penurunan."
Lebih lanjut, Abe mengatakan bahwa penyebaran virus di negara tidak cepat. Tapi dia memperingatkan bahwa sistem medis di beberapa daerah saat ini tengah berada di bawah tekanan karena pandemi ini.
Keadaan darurat yang dimaksud meliputi Tokyo dan tiga prefektur di sekitarnya, ditambah kota Osaka dan dua prefektur lainnya di barat daya Jepang. Hal ini tentunya membuat warga marah dengan pengumuman ini.
Masyarakat Jepang menilai bahwa pemerintah masih ragu-ragu dalam menghadapi ledakan infeksi di ibu kota dan masih enggan untuk memaksakan langkah-langkah ekstrem yang diperlukan untuk mengendalikan virus - terutama karena kekhawatiran tentang dampak ekonomi.
"Sudah terlambat," kata Kenji Shibuya, direktur Institute for Population Health di King’s College, London. Sebelumnya, ia memperingatkan bahwa ibu kota Jepang akan segera menghadapi semacam peningkatan yang berbahaya dalam infeksi dan kematian yang dialami New York.
"Tokyo telah memasuki fase ledakan, dan satu-satunya cara untuk menghentikan runtuhnya perawatan kesehatan adalah dengan mengunci kota sedini mungkin," lanjutnya. Saat ini, Abe meminta agar para warga tidak meninggalkan Tokyo atau Osaka karena khawatir bisa menyebarkan virus ke daerah-daerah kecil lainnya.
Sementara itu, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan dia akan memberikan rincian tempat-tempat yang diminta untuk tutup sementara pada Kamis (9/4) ini. Dikutip dari surat kabar Mainichi, sejumlah tempat yang akan tutup sementara adalah museum, perpustakaan, bioskop, kafe internet, department store, mal dan pusat kebugaran.
Sedangkan fasilitas perawatan kesehatan, supermarket, toko serba ada, hotel, pabrik dan pemandian umum akan tetap dibuka. Sedangkan untuk restoran dan bisnis kecil terdapat sedikit pertimbangan seperti mengurangi durasi waktu buka.
(wk/nidy)