Heboh Pulau Hart Jadi Kuburan Massal Pasien Corona, Wali Kota New York Buka Suara
Dunia
Pandemi Virus Corona

Wali Kota Bill de Blasio membenarkan jika pulau Hart akan dijadikan sebagai tempat pemakaman pasien corona yang meninggal tanpa ada keluarga yang mengurus jasad mereka.

WowKeren - Jumlah kasus corona (COVID-19) di negara bagian New York, Amerika Serikat terus meningkat. Pejabat setempat menanggapi kabar terkait sebuah pulau yang akan dijadikan sebagai tempat penguburan massal bagi korban meninggal COVID-19.

Wali Kota Bill de Blasio membenarkan jika pulau Hart akan dijadikan sebagai tempat pemakaman pasien corona yang meninggal tanpa ada keluarga yang mengurus jasad mereka. Pulau Hart memang selama puluhan tahun digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang meninggal tanpa ada keluarga yang mengurus jasad mereka.

Namun, ia menegaskan bahwa proses pemakaman tidak akan dilakukan secara massal. Setiap jenazah akan dimakamkan secara terhormat.

"Tidak akan ada pemakaman massal di Pulau Hart," kata Bill melalui cuitan di Akun Twitter resminya, Minggu (10/4). "Semuanya akan dimakamkan sendiri-sendiri dan setiap jenazah akan diperlakukan secara bermartabat."


Melalui cuitannya itu, ia menyampaikan kesedihan dengan banyaknya korban yang berjatuhan akibat pandemi tersebut. Terutama mereka yang tidak memiliki sanak saudara untuk memakamkan.

"Jumlah kematian memilukan yang kita saksikan menunjukkan kesedihan yang telah kehilangan banyak orang tanpa keluarga atau teman untuk menguburkan mereka secara pribadi," lanjut Bill. "Mereka adalah orang-orang yang akan dimakamkan di Pulau Hart, dengan segala rasa hormat dan martabat yang dapat diberikan Kota New York."

Sementara itu, Pulau Hart sendiri telah digunakan sebagai lokasi pemakaman umum selama lebih dari 15 dekade. Jenazah yang dimakamkan di Pulau Hart pada umumnya adalah mereka yang telah berada di kamar mayat selama 30 hingga 60 hari tanpa ada keluarga yang mengeklaim. Hingga kini sudah ada lebih dari 1 juta orang yang dikebumikan di sana.

Sekretaris pers Freddi Goldstein menyatakan jika jenazah pasien corona yang dikebumikan di sana adalah jenazah yang tidak diklaim oleh pihak keluarga selama 14 hari berada di kamar mayat. "Jenazah ini adalah mereka yang tidak berkontak dengan keluarga," tutur dia dilansir CNN, Sabtu (11/4).

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts