Dihantam Badai Corona, Industri Penerbangan RI Disebut Cuma Siap Sampai Mei
Nasional

Pendiri AirAsia, Tony Fernandes, mengakui kondisi fiskal yang buruk di masa wabah virus corona ini. Tony bahkan mengaku bahwa 96 persen armadanya kini sudah berhenti terbang.

WowKeren - Pandemi virus corona (Covid-19) menghantam banyak sektor selain kesehatan, termasuk sektor penerbangan. Menurut Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) Bayu Sutanto, pelaku usaha di sektor penerbangan sendiri telah menyiapkan asumsi risiko di masa pandemi corona.

Meski demikian, asumsi risiko tersebut hanya dirancang untuk April hingga Mei 2020. "Kalau masa kedaruratan mundur, belum bisa diputuskan seperti apa solusinya," tutur Bayu dilansir Tempo pada Senin (13/4).

Lebih lanjut, Bayu mengungkapkan bahwa maskapai penerbangan hingga kini masih mencoba mempertahankan bisnisnya dengan sejumlah cara. Di antaranya adalah sejumlah perseroan yang telah mengurangi gaji dan upah pegawai demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, ada pula perusahaan yang menunda pembayaran biaya-biaya operasional hingga menyetop operasi supaya mereka bisa bernapas. Manajemen perusahaan maskapai bagkan telah menunda tunggakan sewa pesawat kepada lessor luar negeri.


Menurut Bayu, jika pandemi masih berlangsung selepas Mei, maka maskapai penerbangan akan menghadapi situasi yang berat. Apabila hal tersebut terjadi, maka perusahaan terpaksa mengambil skenario yang lebih buruk.

Pendiri AirAsia, Tony Fernandes, mengakui kondisi fiskal yang buruk di masa wabah. Tony mengaku bahwa 96 persen armadanya kini sudah berhenti terbang, namun perseroan berusaha untuk tidak melakukan PHK terhadap karyawan.

Tony dan CEO AirAsia, Kamarudi Meranun, bahkan menegaskan mereka tidak akan mengambil gaji demi menekan dampak terhadap stabilisasi perusahaan. "Saya dan Kamarudin tidak akan mengambil gaji selama periode ini," ujar Tony.

Di sisi lain, pandemi corona ini juga mempengaruhi sektor ekonomi lainnya. Menurut riset lembaga nirlaba Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), jutaan orang di Indonesia terancam kehilangan pekerjaan mereka (PHK), menjalani cuti tanpa gaji, atau dirumahkan karena pandemi corona ini. Para buruh yang bekerja di industri padat karya terancam kehilangan pekerjaan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait