Republik Kepulauan Fiji yang terkenal dengan tempat wisatanya harus merasakan pahitnya dihantam wabah corona. Pasalnya, sektor wisata Fiji menjadi sumber pendapatan negara terbesar.
- Nidya Putri
- Kamis, 16 April 2020 - 13:33 WIB
WowKeren - Pandemi corona yang menyerang berbagai negara di dunia memberikan dampak besar terutama di sektor pariwisata. Hal ini juga dirasakan oleh salah satu Penginapan paling terkenal di Ibu Kota Fiji, Suva.
Jika biasanya Penginapan di Suva penuh dengan tamu dari seluruh dunia, kali ini suasana sepi dan kosong bisa dirasakan. Menyisakan seorang pelayan bernama Samuela Yavala. "Saya sudah berkecimpung di industri ini selama 19 tahun dan saya belum pernah melihat yang seperti ini," katanya.
Sebelum virus Covid-19 mewabah Yavala dapat menghasilkan 300 Fiji Dolar (setara Rp 2.083.443) seminggunya, termasuk uang lembur dan tips. Penghasilan tersebut dinilai tinggi untuk negara dengan upah minimum FJD 2,68 per jam (setara Rp 18.612).
Sejak ada pandemi, jam kerjanya dikurangi dan gajinya dipotong setengahnya. Hal ini tentunya membuat Yavala bingung bagaimana dirinya bisa membiayai orang tuanya yang sudah lanjut usia.
Ia bahkan mengaku ketukan apabila hal ini berlangsung akan membuahkan pemecatan. "Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan," katanya.
Sejauh ini, Fiji telah mencatat 16 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi tanpa korban meninggal. Pemerintah setempat pun merespons dengan cepat dan tegas terhadap wabah tersebut dengan menutup bandara di Nadi pada 25 Maret 2020, tepat 6 hari seblum Fiji mengumumkan kasus pertamanya.
Sejak saat itu, seluruh negara harus mematuhi jam malam dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi. Selain itu, polisi dan pasukan keamanan lainnya pun turut melakukan pemeriksaan apabila ada warga yang melanggar.
Wabah corona memberi pukulan besar untuk sektor wisata yang menyumbang hampir 40% pendapatan untuk negara. Secara langsung dan tak langsung pendapatan inilah yang membuat 150.000 orang mendapatkan pekerjaan.
Tahun lalu, Fiji mendapatkan lebih banyak turis yang datang ke negara itu 894.000 orang. Sebagian besar turisnya datang dari Australia terdekat (41%) dan Selandia Baru (23%).
Namun, setelah wabah corona merebak Fiji Airways, maskapai nasional negara itu telah menghentikan 95% penerbangan karena kebijakan pembatasan wilayah. Sejumlah hotel dan resor juga ditutup sehingga membuat lebih dari 25 ribu orang kehilangan pekerjaannya.
Sementara itu, Menteri ekonomi dan jaksa agung Fiji Aiyaz Sayed-Khaiyum mengumumkan anggaran stimulus ekonomi sebesar FJD miliar pada akhir Maret lalu demi membantu pebisnis dan pekerja di tengah pandemi corona. Beberapa pekerja yang memenuhi syarat bisa mendapatkan FJD 1.000 (sekitar Rp 6.944.812) dari dana nasional tersebut.
(wk/nidy)