Pandemi virus corona (COVID-19) tidak serang Antartika, simak kesaksian warga yang harus mengisolasi diri di tempat yang sudah terisolir tersebut dengan suhu ekstrem.
- Ruth Meliana
- Kamis, 16 April 2020 - 14:18 WIB
WowKeren - Penyebaran virus corona (COVID-19) telah melampaui 2 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian lebih dari 130 ribu orang. Dampaknya, masyarakat dunia diimbau untuk tetap berada di rumah dan mengisolasi diri demi menghentikan penyebaran COVID-19 yang sangat cepat.
Pandemi virus corona sendiri telah menghantam 210 negara. Namun, ada satu wilayah di dunia yang diketahui masih bebas dari wabah asal Wuhan, Tiongkok ini. Wilayah ini adalah benua Antartika.
Salah satu warga Antartika yang juga pekerja di Angkatan Laut Chile, Alejandro Valenzuela Pena menceritakan bagaimana pandemi virus corona mempengaruhi wilayahnya. Menurutnya, pandemi ini tidak mempengaruhi Antartika secara signifikan lantaran warga disana sudah terbiasa hidup dengan perasaan terisolasi.
”Kami dilatih untuk hidup dalam isolasi,” ungkap Valenzuela seperti dilansir dari New York Post, Kamis (16/4). “Tetapi sekarang dengan kondisi pandemi ini yang muncul dengan sendirinya, menempatkan kami dalam situasi terisolasi di kawasan terisolir.”
Hal ini disebabkan lantaran Antartika merupakan wilayah di dunia ini yang begitu terpencil dan membeku dengan suhu ekstrem. Warga Antartika diketahui tinggal di satu pangkalan maritim Teluk Maxwell, biasa juga disebut Teluk Fildes, di Pulau Rey Jorge atau Pulau Raja George. Pulau ini merupakan bagian dari Kepulauan Shetlands Selatan, yang dikenal sebagai sebagai salah satu pintu masuk Antartika.
Valenzuela juga menjelaskan jika 100 awak yang bekerja di angkatan lautnya saat ini tengah melakukan isolasi diri demi mencegah virus corona. Selain itu, pangkalan ini juga langsung melakukan lockdown.
Akibatnya, sebanyak total 170 orang yang tinggal di pangkalan mesti hidup dalam isolasi total serta menghadapi suhu udara yang cukup dingin. Valenzuela mengatakan suhu rata-rata di wilayahnya sangat jarang melewati angka nol derajat Celsius. Bahkan di musim dingin, suhu rata-rata di Antartika adalah -12 derajat.
”Di sini kami mengikuti secara cermat perkembangan wabah virus corona,” curhat Valenzuela. “Pangkalan-pangkalan yang ada di sini mengambil langkah serupa yang diambil banyak negara.”
”Tidak ada lagi kontak secara langsung. Tidak ada acara yang dulu banyak digelar oleh berbagai lembaga atau pangkalan-pangkalan asing,” sambungnya. “Di sini semuanya serba sulit, jadi bisa dibayangkan kalau ada yang terinfeksi virus corona.”
Valenzuela juga menjelaskan bagaimana jika salah satu warga yang tinggal disitu terinfeksi COVID-19. Ia mengakui jika fasilitas kesehatan di Antartika begitu terbatas dengan minimnya tenaga medis.
Bahkan, rumah sakit setempat tidak memiliki ventilator atau peralatan medis lain yang biasa diperlukan bagi pasien virus corona. Oleh sebab itu, opsi terbaik adalah membawa pasien virus corona keluar dari Antartika.
”Hanya ada satu rumah sakit kecil. Hanya ada satu dokter umum dan beberapa perawat," jelas Valenzuela. “Yang harus kami lakukan tentu saja adalah membawa keluar dari sini.”
Namun hal tersebut dirasa sangat sulit lantaran memerlukan transportasi berupa pesawat terbang ataupun kapal laut. Cuaca ekstrem di Antartika juga dinilai dapat menghambat penanganan pasien virus corona. Oleh sebab itu, Valenzuela mengatakan opsi terbaik yang bisa dilakukan hanyalah menerapkan tindakan pencegahan semaksimal mungkin.
(wk/lian)