Tiongkok menggunakan teknologi berbasis QR Codes dengan tiga warna indikator demi mengendalikan wabah virus Corona, yakni merah kuning dan hijau. Begini cara kerjanya.
- Elvariza Opita
- Kamis, 16 April 2020 - 19:28 WIB
WowKeren - Indonesia bukan satu-satunya negara yang berjuang untuk mengatasi wabah virus Corona. Setiap negara pun memiliki caranya masing-masing untuk menekan angka penyebaran, termasuk Tiongkok yang belakangan terungkap mengandalkan teknologi.
Tiongkok ternyata bercermin dari kebiasaan kaum masa kini yang banyak menggunakan ponsel pintar dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, pemerintah Tiongkok pun menanamkan aplikasi berbasis quick response codes (QR Codes).
Secara sederhana, aplikasi ini menggunakan tiga indikator warna bak lampu lalu lintas, yakni merah, kuning, dan hijau. Orang dengan status merah dan kuning harus diawasi lebih lanjut, sedangkan yang hijau dianggap aman. Warna ini muncul setelah pemilik gawai memindai QR code yang ia miliki.
Lantas bagaimana cara kerja aplikasi ini? Pakar kecerdasan buatan (AI) bidang kesehatan Alibaba, Xian-Sheng Hua pun menjelaskan bagaimana cara kerjanya.
"Teknologi saat ini memegang peranan penting dalam mengatasi pandemi," ujar Hua, dilansir dari CNN Business, Kamis (16/4). "Untuk menghentikan penyebaran virus, mengamati pergerakan (seorang penderita COVID-19) adalah langkah penting dan inilah yang sekarang coba diimplementasi di berbagai penjuru dunia."
Tak hanya Alibaba lewat aplikasi Alipay, pemerintah Tiongkok juga menggandeng Tencent lewat aplikasi WeChat. Kedua aplikasi ini merupakan yang paling banyak diakses masyarakat Tiongkok.
Di aplikasi itulah kemudian ditanamkan QR Code untuk masing-masing pengguna. Sebelum mengaktifkannya, pengguna harus mengisi data pribadi meliputi nama, nomor kependudukan, dan nomor telepon.
Pengguna juga harus jujur dalam mengisi riwayat perjalanan atau apabila baru saja melakukan kontak dengan individu terkait COVID-19, baik pasien positif maupun suspect dalam 14 hari sebelumnya. Gejala klinis yang tengah dialami pun harus dijelaskan, seperti demam, kelelahan, batuk, pilek, dan sebagainya.
Hasil pengisian kuisioner ini yang menjadi penentu status warna penggunanya. Lantas apa yang harus dilakukan dengan status tersebut?
"Pengguna dengan kode merah harus dikarantina, baik mandiri maupun di fasilitas pemerintah, selama 14 hari. Pengguna dengan kode kuning harus dikarantina selama 7 hari. Sedangkan pengguna dengan kode hijau bisa bergerak bebas," demikian kutipan penjelasan dari otoritas Hangzhou sebagai kota pertama yang menerapkan QR code ini.
Tak hanya itu, QR code ini juga berperan ketika pemerintah harus melakukan pemeriksaan terhadap riwayat perjalanan pasien COVID-19. Semisal seseorang awalnya sehat, kemudian dinyatakan positif COVID-19, tentu tempat dan orang yang ditemuinya selama 14 hari sebelumnya harus segera diperiksa lebih lanjut.
Riwayat perjalanannya ini yang kemudian bisa diselidiki lewat QR Code yang ada. Dengan demikian penyebaran virus Corona bisa ditekan sedemikian rupa.
QR Code ini pun sudah digunakan secara luas di ratusan kota di Tiongkok. Oleh karena itu, pemerintah juga meminta Alibaba dan Tencent untuk mengembangkan lebih lanjut aplikasi itu sehingga bisa dipakai secara nasional.
Tentu cara Tiongkok ini bisa ikut diterapkan di Indonesia sehingga penyebaran virus bisa mereda. Untuk saat ini teknologi serupa memang belum ada, namun Indonesia telah mengembangkan aplikasi PeduliLindungi untuk melacak COVID-19.
(wk/elva)